Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro mengakui Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dalam hal pengembangan industri hilir. Saat ini, negara jiran itu tidak lagi fokus menjual barang mentah, tetapi produk olahan bernilai tinggi.
"Kita masih asyik ke karet atau ekspor bahan mentah," kata Bambang dalam acara Mandiri InvestmentForum 2015, Jakarta, Selasa (27/1).
Menurutnya, Indonesia pernah terbuai oleh harga komoditas yang meroket hingga mencapai puncaknya pada 2010-2011. Sebab, kondisi itu membuat pemerintah membiarkan kekayaan alam Indonesia dijual begitu saja tanpa harus diolah terlebih dulu agar memiliki nilai tambah.
"Pada saat harga komoditi mencapai puncak, ada problem untuk Indonesia. Seolah-olah kita lupa bahwa itu adalah jebakan," kata Bambang.
Meski agak terlambat, menurut Bambang, pemerintah kini fokus mengembangkan industri pengolahan untuk perkebunan dan pertambangan. Di sisi lain, mengekspor barang mentah tak lagi menguntungkan mengingat harga di pasaran dunia sedang menurun.
"Strategi kedepan adalah memperkuat di sektor manufaktur hilirisasi, baik pertambangan maupun perkebunan."
Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan pembangunan ekonomi di bawah pemerintahan Joko Widodo bakal banyak menghadapi rintangan.
"Tantangan ekonomi Indonesia adalah sistem hukum, reformasi, kebijakan ekonomi daerah, kepastian hukum untuk investor
menanamkan modalnya."