Harga bahan bakar minyak di Singapura termasuk yang paling mahal di Asia Tenggara. Jenis RON 95 (setara Pertamax Plus di Tanah Air) dijual SGD 2 per liter, alias Rp 18.746.
Membawa kendaraan pribadi, baik mobil atau sepeda motor, sama saja memaksa kita merogoh kocek dalam-dalam. Pemerintah Singapura sejak lama ogah memberi subsidi energi pada warganya.
Solusi paling pas tentu saja naik transportasi umum. Brian, 21 tahun, warga negara Indonesia yang bersekolah di Nanyang Technological University, mengandalkan bus SBS Transit sehari-hari bila ingin ke kampus yang berada di pinggir kota.
"Paling lama 1,5 jam. Itu juga karena rajin berhenti di halte," ujarnya.
Merdeka.com memperoleh cerita dari Syam, 25 tahun, warga negara Malaysia yang pilih membawa sepeda motor kesayangannya berupa Yamaha RX-Z keluaran 1986, buat transportasi sehari-hari di Negeri Singa. Pria bekerja sebagai pelayan kafe ini mengaku punya trik khusus mengurangi ongkos yang mencekik akibat BBM di Singapura.
"Saya isi sepeda motor ini full tank dari rumah di Johor Bahru, baru berangkat ke Singapura," kata Syam. Perjalanan dari pintu imigrasi Woodlands, Johor Bahru sampai tempat kerja di Prinsep Street, Singapura, butuh 45 menit dengan kecepatan santai 60 kilometer per jam. Pemuda masih melajang itu mengaku pilih pulang saban jam kerja selesai pukul 21.00 waktu Singapura.
Syam mengatakan harga bensin kualitas RON 95 di Malaysia 2,3 Ringgit (setara Rp 8.400 per liter). "Masih masuk akal jadinya. Kalau beli fuel di Singapura, tidak sanggup, tidak terjangkau pekerja biza seperti saya."
Memang, trik ini cuma berlaku bagi komuter asal Malaysia, yang terhubung dari jalur darat dengan Negeri Kota tersebut. Jumlah pekerja migran lintas negara itu terus meningkat saban tahun, diperkirakan 1,5 juta per hari. Itu belum memperhitungkan 9.000 orang (data Strait Times 2013), warga negara Singapura yang memang tinggal di Negeri Johor Bahru.
Ditambah ongkos tol Malaysia-Singapura, Syam mengeluarkan USD 200 (Rp 2,4 juta) per bulan di luar BBM. Sekilas mahal, tapi Syam punya alasan kuat mempertahankan gaya hidup itu. Utamanya soal pajak kendaraan, karena imigrasi Negeri Singa mengizinkan dia mempertahankan pelat nomor Malaysia.
Pajak BPKB dan PPnBM tahunan Singapura empat kali lipat di atas harga jual sepeda motor atau mobil itu sendiri.
"Banyak sekali orang Malaysia seperti saya, karena jatuhnya lebih murah dan kami tidak perlu pusing dengan pajak," tandasnya.