Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyampaikan sejumlah capaian kebijakan moneter pada tahun 2014. Agus mengaku stabilitas sistem keuangan terjaga di tengah ketatnya situasi moneter saat ini.
Indikatornya, kata Agus, terlihat dari angka kredit macet (non-performing loan/NPL) berada di kisaran 2,8 persen dari total kredit per September 2014. Sementara, permodalan berada di posisi yang memadai dengan CAR 19,4 persen dan pertumbuhan kredit mencapai 13,2 persen year-on year (YoY).
Agus mengklaim, kebijakan bank sentral memperkuat kepercayaan investor menanamkan modalnya di tanah air. Indikatornya terlihat dari peningkatan arus masuk investasi portofolio sebesar Rp 177,75 triliun pada Januari-pertengahan November 2014. Jumlah ini meningkat dari arus investasi 2013 yang sebesar Rp 35,9 triliun
"Aliran ini menjaga gairah investasi di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Persepsi risiko terhadap Indonesia di pasar keuangan juga cukup membaik, seperti yang ditunjukkan oleh Credit Default Swap yang turun dari 303 bps pada Agustus 2013 menjadi 142 bps pada November 2014," ujar Agus dalam acara Bankers Dinner di Jakarta Conventional Center, Senayan, Jakarta, Kamis (20/11).
Capaian lain, kata mantan menteri keuangan ini, cadangan devisa negara tetap terjaga positif. Sampai Oktober 2014, cadangan devisa mencapai USD 112 miliar atau setara dengan 6,4 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Defisit neraca transaksi berjalan sampai triwulan ketiga 2014 lebih rendah daripada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Perbaikan ini tampak pada nilai bersih ekspor nonmigas, ditopang perbaikan pada ekspor manufaktur dari sentra-sentra industri utama di Pulau Jawa. Sejalan dengan itu, perekonomian DKI Jakarta dan Jawa terlihat mulai stabil dan Kawasan Timur Indonesia mulai membaik walaupun perekonomian Sumatera masih melambat," kata dia.
Dia menambahkan inflasi juga tengah mengalami penurunan. Pada kuartal ketiga tahun 2014 inflasi tercatat 4,53 persen dan lebih rendah daripada kuartal yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 8,4 persen. Begitu pula dengan peningkatan volume transaksi di pasar spot antar bank dari USD 500 juta per hari menjadi USD 1,5 miliar.
"Oleh karena itu, tak berlebihan jika langkah-langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia telah berhasil mengembalikan kondisi ekonomi makro kembali pada jalan stabilitas. Capaian ini perlu kami jaga dan lindungi bersama dari kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek," ucapnya.
Dalam acara tersebut, hadir pula Presiden Joko Widodo yang menjadi tamu kehormatan dalam acara tahunan tersebut. Selain itu, juga dihadiri Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Perindustrian Saleh Husin dan para petinggi bank-bank dan pejabat di industri keuangan.