Gaya hidup dari hari ke hari semakin berkembang, mulai berkumpul di akhir pekan di kafe sambil ngopi, makan di restoran, nonton film bareng, berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan, sampai berwisata. Aktivitas itu bisa kita temui dimana saja pada masyarakat masa kini.
Pada aktivitas itu terjadi perputaran ekonomi karena adanya transaksi. Tanpa adanya alat tukar uang, transaksi itu tidak berjalan mulus.
Lalu, sejak kapan uang itu digunakan manusia sebagai alat transaksi perekonomian?
Setelah ratusan tahun menggunakan uang koin, maka dilakukan inovasi penggunaan uang kertas.
Dalam sejarah, uang kertas merupakan inovasi manusia pertama kali yang digunakan Dinasti Yuan, di masa kepemimpinan Kubilai Khan pada abad ke-13 di China.
Inovasi ini memperkaya kekaisaran dan mendongkrak aktivitas perdagangan. Hal ini didorong oleh proses pembuatan uang kertas yang relatif lebih mudah dibanding uang koin.
Ketika semua orang di pelosok negeri siap menerima alat tukar yang sama, maka kesempatan perdagangan meningkat secara eksponensial. Dampak dari peningkatan pertumbuhan ekonomi ialah berkembangnya aktivitas perdagangan, yang pada akhirnya mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.
Namun demikian, tak urung instrumen pembayaran kertas inipun menimbulkan permasalahan baru yang menyebabkan tersendatnya aktivitas ekonomi, yaitu masalah uang kembalian. Tidak jarang terlontar dari petugas kasir sebuah kalimat, “Maaf, tidak ada kembaliannya.”
Hal itu sebagai bentuk respon terhadap pembayaran dengan menggunakan uang kertas. ini terjadi sebagai akibat proses penyediaan uang kembalian membutuhkan penyediaan uang pecahan kecil yang menghabiskan biaya dan waktu produktif karyawan perusahaan,ditambah tidak memberi nilai signifikan terhadap produk utama yang dijual.
Menghadapi fenomena tersebut dan inefisiensi lainnya dalam sistem pembayaran dengan menggunakan uang kertas, Bank Indonesia sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran menggandeng institusi pemerintahan dan industri pembayaran dalam membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran non tunai atau Less Cash Society (LCS).
Pada 14 Agustus 2014 lalu, upaya menggugah masyarakat terhadap penggunaan non tunai,ini dilakukan melalui pencanangan Gerakan Nasional Non Tunai oleh Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah dan Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia.
Lantas apa bedanya sistem pembayaran yang menggunakan uang kertas dengan non tunai (uang elektronik)?
Selain melangsingkan dompet, peralihan penggunaan alat pembayaran dari uang kertas menuju alat pembayaran non tunai memiliki banyak kelebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, lebih cepat. Kini ketinggalan kereta karena transaksi yang lama di loket tidak bisa menjadi alasan terlambat lagi, karena membayar dengan uang elektronik akan lebih cepat .
Kedua, lebih nyaman. Membeli baju baru tidak lagi direpotkan khawatir tidak memiliki uang pecahan kecil maupun menghitung jumlah lembaran uang kertas untuk membayar, sehingga petualangan fashion dari Pasar Tanah Abang sampai Plaza Indonesia akan terasa lebih menyenangkan tentunya.
Selain memberi manfaat kepada aktivitas keseharian individu, perekonomian secara keseluruhan pun akan merasakan manfaat dari less cash society.
Bukan hanya itu saja, dengan berkurangnya penggunaan uang non tunai, setidaknya ada tiga manfaat utama yang akan didapat yaitu :
Pertama, transaksi yang semakin efisien akan mendorong perputaran perekonomian yang semakin cepat.
Kedua, biaya ekonomi karena transaksi semakin kecil sehingga beban biaya yang ditanggung semakin murah.
Ketiga, pembayaran secara non tunai yang identik dengan modernisasi akan meningkatkan citra Indonesia sebagai negara yang tidak ketinggalan jaman (up to date) dengan perkembangan teknologi sekarang ini.
Mengubah budaya masyarakat menggunakan uang tunai menuju ke budaya less cash society bukanlah one man show. Gotong-royong antara lembaga-lembaga pemerintah dengan para pelaku industri pembayaran diperlukan untuk kesuksesan transisi budaya ini. Selain itu budaya baru tersebut perlu juga didukung oleh masyarakat yang merupakan sasaran akhir Less Cash Society.
Untuk itu Bank Indonesia akan senantiasa melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dalam menggunakan non tunai untuk transaksi yang mudah, cepat dan aman.