Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bakal memprioritaskan pengusaha lokal dalam proyek pembangkit listrik alternatif. Sementara investor kaya baik nasional maupun asing di dorong untuk membangun infrastruktur kelistrikan berkapasitas besar.
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan pembangkit listrik tergolong besar adalah yang berkapasitas mulai dari 20 kilowatt hingga 10 ribu megawatt. Adapun pembangkit listrik alternatif dimaksud adalah yang menggunakan energi terbarukan, semisal, panas bumi, biogas, sinar matahari, dan lainnya.
"Itu memungkinkan semut sampai gajah itu bermain. Tapi yang gede-gede kayak operator paiton masak tertarik di bawah 20 KW. Ibaratnya liga sepakbola, ada yang tarkam sampai liga Eropa. Jangan sampai liga tarkam diadu dengan liga Eropa, ya meninggal," kata Susilo saat membuka Pameran Kelistrikan Indonesia 2014, di Jakarta Convention Center, Rabu (1/10).
Menurutnya, pengusaha lokal memiliki kemampuan untuk membangun pembangkit listrik alternatif. Untuk itu, dia akan meminta Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Djarman membuat regulasi pendukungnya.
"Supaya everybody has playing fields (setiap orang punya lapangan main)," ujarnya.
Terlepas dari itu, Susilo menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk memudahkan investor swasta dalam membangun infrastruktur kelistrikan. Dengan begitu, diharapkan rasio elektrifikasi di Indonesia bisa mencapai 85 persen selambatnya 2020.
"(Peran swasta) sejak dari pembangkitan kemudian transmisi, distribusi, termasuk juga jasa-jasa, operator. Sedangkan PLN fokus pada penghematan, efisiensi. Itu tugas kita semua," katanya.
Sekedar informasi, tahun ini, konsumsi listrik nasional mencapai 876 KwH per kapita. Diperkirakan bakal bertambah menjadi 1.300 KwH per kapita pada 2020.