UKM makanan minuman terancam keok saat pasar bebas ASEAN

UKM mamin Indonesia terancam tak bisa bersaing karena tingginya standard kualitas produk negara lain.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
UKM makanan minuman terancam keok saat pasar bebas ASEAN
Warung tenda. ©2012 Merdeka.com

Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia berkontribusi cukup besar pada perekonomian bangsa. Secara keseluruhan industri mamin menyumbang 7 persen dari keseluruhan GDP Indonesia, atau khusus nonmigas saja mamin menyumbang 36 persen.Meski demikian, pasar bebas ASEAN atau masyarakat ekonomi ASEAN 2015 mengancam keberadaan industri mamin khususnya sektor UKM. Pasalnya, negara di kawasan ASEAN memiliki standardisasi berbeda dan tinggi dalam tingkat higienitas serta sanitasi produk mamin."Singapura, Malaysia, mereka tidak mau turunkan standarnya (produk mamin). Proses harmonisasi ini jadi tantangan besar," ucap Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adi S Lukman di Hotel Pullman Centrak Park, Jakarta, Senin (22/9).Adi menyebut hal ini menjadi tantangan besar UKM mamin ke depannya. Indonesia tidak bisa terus berdiam diri menonton para pesaing masuk dan menguasai pasar Indonesia."Apa kita harus berdiam diri menonton para pesaing masuk Indonesia, ini sebabnya industri mamin menyerbu Indonesia. Karena regional ASEAN jadi daya tarik."Adi mengakui industri mamin Jepang saat ini sudah mulai menjajah Indonesia. Sebab, tingkat konsumsi Jepang mulai menurun karena dari sisi demografi, Jepang dipenuhi masyarakat lansia. "Demografi Jepang melebar ke atas atau lansia. Indonesia itu penuh middle class dan young class yang tinggi," tutupnya.

Rekomendasi