Kenaikan harga gas elpiji 12 kg berpotensi membuat gas 3 kg laku keras. Sebab, ada kemungkinan terjadi migrasi pengguna gas 12 kg ke 3 kg.
PT. Pertamina (Persero) mengaku tidak bisa mencegah dan menghalangi migrasi pengguna elpiji 12 Kg ke 3 Kg. Namun pihaknya yakin tidak akan ada kelangkaan gas 3 kg.
"Kemungkinan migrasi itu ada 2 persen. Dari kuota elpiji 3 kg yang disediakan pemerintah cukup. Walaupun ada migrasi kita pastikan cukup," ujar direktur pemasaran dan niaga PT. Pertamina, Hanung Budya di Kantornya, Jakarta, Rabu (10/9).
Sementara itu, disinggung soal kemungkinan terjadinya pengoplosan, telah bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk mengantisipasi dampak negatif kenaikan harga elpiji 12 Kg. Langkah ini untuk mencegah aksi pengoplosan elpiji subsidi 3 Kg ke dalam 12 Kg.
"Memonya atau berkoordinasi dengan aparat kepolisian mencegah terjadi pengoplosan 3 kg ke 12 Kg, elpiji 3 Kg harga murah Rp 4.250 per Kg dan elpiji 12 Kg harganya Rp 9.519 per kg karena perbedaan harga ini kita lihat ada pihak-pihak yang melakukan pengoplosan," katanya.
Hanung mengaku pihaknya juga tengah membangun sistem monitoring distribusi elpiji 3 Kg sampai ke pangkalan melalui aplikasi SIMoL3K (Sistem Monitoring Penyaluran Elpiji 3Kg).
" Kita bisa tahu nama, agen siapa, penebusan berapa, dijual ke mana saja. Mencegah penjualan kepada konsumen yang tidak berhak," ucapnya.