PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menargetkan salah satu aset tambang mereka di Gorontalo bisa beroperasi pada 2019. Masalahnya kini terletak pada instalasi pemurnian konsentrat alias smelter yang masih belum jelas nasibnya.
Tambang di Gorontalo mampu menghasilkan tembaga maupun emas. Kalau pembicaraan soal smelter dengan investor mitra tak kunjung rampung hingga akhir 2014, maka BRMS akan fokus menggarap penambangan emas terlebih dulu.
"Dalam hal Gorontalo, ada dua opsi dan kami harus fokus. Ada peraturan menentukan kami harus memiliki smelter, sampai saat ini kami sudah berhubungan dengan calon mitra di antaranya dengan PT Nusantara Smelter. Sekarang ketidakmenentuan masih ada. Kalau sampai 2019 smelter belum bisa ada, maka kami harus lari ke gold dulu," kata Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata selepas rapat umum pemegang saham di Jakarta, Senin (30/6).
Tambang di Gorontalo dikelola oleh anak usaha BRMS melalui bendera PT Gorontalo Minerals. Lokasinya di Sungai Mak, Motomboto, Kayubulan, serta Cabang Kiri, Sulawesi Utara. Pada 2011, studi kelaikan sudah selesai. Cadangan mineral di tambang tersebut juga telah dipetakan.
Suseno menjelaskan, seandainya menambang tembaga, maka BRMS yakin bisa meraup 75.000 ton per hari. Sementara kalau emas, jumlahnya belum bisa diketahui.
Tapi mengingat emas tidak kena aturan hilirisasi, maka BRMS menilai bisnis logam mulia itu akan lebih menguntungkan lantaran cepat balik modal.
"Kalau pendanaan smelter masih belum jelas, maka kami harus geser ke emas. Kita tahu dari segi pre-development, sampai payback period-nya emas cepat. Karena kami hanya harus memproduksi bullion,terus kirim ke pengolahan logam mulia di Jakarta," urai Suseno.
Tambang di Gorontalo memiliki luas konsesi lahan sebesar 36.070 hektar. Anak usaha BRMS itu, 20 persen sahamnya turut dikuasai PT Aneka Tambang Tbk. Dengan atau tanpa smelter, maka operasional tambang diperkirakan manajemen akan mulai pada 2019 akhir.