Selembar kain batik menyimpan lebih dari sekadar motif dan warna. Di balik tiap goresan cantingnya, ada kisah kemandirian dan kesetaraan yang terus dihidupkan.
Memperingati Hari Batik Nasional, PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem UMKM batik nasional. Hingga saat ini, sebanyak 428 UMKM batik telah masuk dalam program pembinaan Pertamina. Pendampingan yang diberikan mencakup penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, hingga perluasan jangkauan pasar.
Tak sekadar melestarikan warisan budaya, keberadaan UMKM binaan ini juga membukakan pintu bagi para penyandang disabilitas untuk berdaya secara ekonomi.
Dampak inklusivitas ini nyata dirasakan di berbagai daerah. Di Bantul, Yogyakarta, Roona Batik yang dikelola Muhammad Syauki kini mampu memproduksi sekitar 5.000 lembar kain per bulan dengan omzet menembus Rp100 juta. Dari 18 pekerja yang dikerahkan, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Masih di Yogyakarta, Vitalia Noor Darmaningsih membesarkan Batik Jinggar lewat inovasi motif dan desain. Usaha yang mencetak omzet Rp100 juta per bulan ini memberdayakan delapan tenaga kerja, dua di antaranya adalah penyandang disabilitas.
Cerita serupa datang dari Sumatra. Di Riau, Novita Hermawan mengembangkan Canting Batik Tulis Riau dengan mengangkat identitas budaya lokal. Beromzet Rp150 juta per bulan, usaha ini mempekerjakan delapan orang, di mana lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Sementara di Boyolali, Jawa Tengah, semangat inklusi ini diwadahi melalui program Sriekandi Patra. Kelompok ini kini telah mandiri dengan memiliki workshop, peralatan, serta modal usaha sendiri. Selain memproduksi batik dan oleh-oleh khas, mereka juga merambah paket edukasi membatik hingga berkolaborasi dengan desainer nasional.
Advertisement
Wujud Nyata Ekonomi Inklusif
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengungkapkan bahwa pembinaan UMKM difokuskan untuk menciptakan ruang tumbuh yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Bagi Pertamina, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya," ujar Baron.
Ia menambahkan, terbukanya kesempatan bagi penyandang disabilitas membuktikan bahwa inklusivitas bisa tumbuh alami dari aktivitas ekonomi berbasis komunitas.
"Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian. Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina," tegasnya.
Langkah ini mempertegas komitmen Pertamina sebagai BUMN energi dalam mendukung penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan kewirausahaan, serta penguatan industri kreatif yang berkelanjutan.