Wajah sumringah terlihat pada para pelaku industri ekonomi kreatif, saat melakukan jumpa pers mengomentari hasil debat capres dengan tema Ekonomi. Paling tidak, bagi Sineas Alex Komang, Musisi Slank Abdee Negara, Animator Achmad Rafiq, Penyelenggara Pameran Seni Rupa Ade Darmawan dan kurator seni rupa Kurator Seni Rupa Mia Maria, kandidat capres mulai melirik industri kreatif jadi bagian kebijakannya kelak.
Dengan potensi industri kreatif mencapai Rp 100 triliun dengan total sumbangan pada produk domestik bruto nasional mencapai 7 persen, pemerintah mendatang sudah sepantasnya, melindungi industri yang digawangi anak muda dan komunitas musik, busana, teknologi informasi, animasi, kuliner, dan lainnya.
Musisi Slank Abdee Negara mengatakan industri kreatif akan menciptakan lapangan kerja yang sangat luas. Hal ini karena karakternya, yang membebaskan orang untuk berusaha membuat karya. Misalnya, di industri musik. Tetapi, saat ini industri musik masih sangat kecil menyumbang terhadap sektor ekonomi kreatif hanya sekitar 3 persen. "Ini sangat kecil, karena beberapa hal," katanya.
Dia mengatakan minimnya kontribusi industri musik karena pembajakan. Saat ini, perbandingannya mencapai 1 berbanding 20 antara yang orisinil dan bajakan. "Artinya kalau 3,5 persen dari industri musik Rp 5 triliun saat ini, silahkan dikalikan 20 kali, itu sumbangan dari industri musik."
Abdee mengatakan masalah utama dalam industri kreatif adalah penegakan hukum, walaupun perangkat hukumnya sudah ada. "Bisa dibilang belum dilaksanakan dengan benar. Jika penegakan hukum ini dijalankan, saya pikir industri kreatif akan bisa maju dan menyumbangkan lebih banyak lagi untuk PDB Indonesia." katanya.
Dia mengatakan program yang dikemukakan calon presiden terutama soal ekonomi kreatif, harus dibarengi dengan kampanye intelektual. Membangkitkan masyarakat pada karya ekonomi kreatif. "Banyak karya yang tidak memiliki nilai tambah pada pemilik karya, karena tidak melindungi," katanya.
Berbagai hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memberikan insentif dan perbaikan infrastruktur untuk industri kreatif. Contohnya, di bidang musik, para promotor musik kesulitan mencari tempat untuk konser.
Penyelenggara Pameran Seni Rupa Ade Darmawan mengatakan kunci utama untuk meningkatkan industri kreatif Indonesia adalah pemerataan pendidikan dan infrastruktur. "Ini jadi pengait yang penting, hampir tidak mungkin kita ngomong ekonomi kreatif tanpa penyebaran dua isu itu," katanya.
Dia mengatakan dengan banyaknya modal kultural yang beragam harusnya jadi potensi. Tetapi yang terjadi adalah pelaku ekonomi kreatif sudah tidak tahu bagaimana mengembangkannya."Industri kreatif saat ini masih jawa sentris. Misalnya, dalam industri film itu Jakarta. Padahal Indonesia bukan hanya Jakarta."
Kurator Independen Mia Maria mengatakan selama ini industri kreatif Indonesia selama ini bukan sekedar ada bakat atau potensi. Tetapi Indonesia punya prestasi."Bahkan dengan dukungan yang sangat minim pemerintah, kita sudah punya prestasi," katanya.
Mia mengatakan yang paling penting dalam industri kreatif adalah dorongan pemerintah pada masyarakat lebih mengenal potensi dan kepercayaan diri untuk bersaing dikancah Internasional dan dalam negeri."Yang paling penting adalah revitalisasi dari ruang-ruang kreatif. Ini mendorong bangsa kita untuk mengenal potensinya sendiri."
Dalam hal pengumpulan karya, lanjut Mia, Indonesia, kalah oleh Singapura dan Belanda yang memiliki banyak koleksi karya para pelaku industri kreatif dalam negeri. "Sedangkan kita, museumnya ada, ruangnya ada, tapi aktivasinya sangat kurang, dan koleksinya boleh dibilang tidak ada. Kalau ada dukungan, pasti akan lebih lagi dari sekarang," ujarnya.