Agus Marto desak pemerintah benahi tata kelola energi

BI memperingatkan pemerintah terkait dampak stimulus Amerika Serikat.

Nurul Julaikah
Oleh Nurul Julaikah - Reporter
Agus Marto desak pemerintah benahi tata kelola energi
Agus Martowardojo. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 diakui tidak sebesar tahun sebelumnya yang mencapai 5,8 persen. Sebab, pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi akan berkisar pada angka 5,1 persen hingga 5,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowadojo memprediksi pertumbuhan ekonomi tersebut dapat tercapai jika dibarengi adanya upaya menjaga stabilitas ekonomi. "Agar pertumbuhan ekonomi bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia, agar tidak terjadi gap antara si kaya dan si miskin," ujar Agus saat acara bank terbaik 2014 di jakarta, Selasa (10/6).

Dengan berupaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan inklusif, diharapkan pertumbuhan ekonomi pada 2014 tetap terjaga pada kisaran 5 persen sampai 5,5 persen.

BI mengaku telah menerapkan ekonomi struktural yang sudah mulai dilaksanakan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. "Syukur-syukur bisa di atas rata-rata selama 5 tahun terakhir sebesar 5,9 persen kita bisa melaksanakan satu program ekonomi struktural," katanya.

Dia mengatakan tata kelola energi, manajemen pangan, dan memperkuat modal harus diperhatikan oleh pemerintah yang akan datang. "Apabila tiga aspek itu bisa diperbaiki, kita perlu perhatikan adalah peningkatan daya saing Indonesia, sistem perbaikan Indonesia, ini menjaga ekonomi Indonesia ke depan," ungkapnya.

Agus memperingatkan pemerintah terkait program stimulus moneter Amerika Serikat yang akan memberikan pengaruh pada ekonomi dan likuiditas Indonesia. "Tentu yang perlu kita perhatikan pertumbuhan dunia, akan ada program penerusan stimulus moneter, itu yang perlu diwaspadai," ujarnya.

Selain itu, perkembangan ekonomi di Tiongkok, akan memberikan pengaruh di dalam negeri. Pada kurun 10 tahun terakhir pertumbuhan negara tersebut berada di kisaran 10,5 persen dan diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 7,5 persen. "Kita tidak bisa membayangkan berjalan 5 tahun ke depan jika tidak dipertimbangkan dengan baik."

Tekanan dari luar tersebut, akan memberikan dampak terhadap komoditi Indonesia yang belum mengalami full processing yang mengakibatkan harga terkoreksi. "Harga komoditi dunia yang masih terjadi koreksi dan penurunan, tentu dampaknya lagi-lagi kepada Indonesia," katanya.

Rekomendasi