Beda dari OJK, BI sebut perbankan tak akan jadi sumber krisis

Bank Indonesia yakin perbankan di dalam negeri belum mengalami kekeringan likuiditas.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
Beda dari OJK, BI sebut perbankan tak akan jadi sumber krisis
Beda dari OJK, BI sebut perbankan tak akan jadi sumber krisis

Bank Indonesia (BI) belum mencium adanya potensi kekurangan atau kekeringan likuiditas pada perbankan nasional. Meski saat ini isu global muncul yakni kebijakan The Fed untuk mengurangi stimulus moneter (tapering off), banyak bank-bank yang dikhawatirkan kekurangan likuiditas.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Darsono mengatakan, sejauh ini BI terus mengupayakan agar bank-bank di dalam negeri aman dari dampak kebijakan moneter The Fed.

"Kami terus mengupayakan agar likuiditas bank tetap terjaga sehat. Kalau potensi (kekeringan) tidak ada, kita terus cermati mana bank-bank yang perlu kita carikan jalan keluarnya, kemudian kredit bank mana saja yang memiliki risiko NPL (kredit bermasalah) nya meningkat dan itu perlu kita lakukan langkah-langkah terkini," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Senin (19/5).

Bank sentral berjanji terus mewaspadai dampak dari isu global seperti kebijakan the fed untuk mengurangi stimulus moneternya. Bahkan, akhir-akhir ini sempat diisukan The Fed bakal menaikkan suku bunganya.

"Kita harus terus mewaspadai, maka jika perlu kebijakan maka kita akan ambil kebijakan, jadi kita tetep hitung terus dampak itu, dan mudah-mudah terus terkendali," ungkapnya.

BI juga mengklaim berusaha menjaga defisit transaksi berjalan agar tidak kembali meningkat.

"Yang penting transaksi berjalan kita bisa dijaga defisitnya, maka dari itu bank kita yang mempunyai pinjaman di luar negeri, kalau premi risikonya naik, maka kita akan membayar dengan biaya yang lebih tinggi baik bersumber dari domestik maupun dari eksternal," tutup fdia.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah khawatir pada potensi munculnya krisis dari dalam negeri. Indikatornya adalah mulai banyaknya produk di industri jasa keuangan yang disinyalir berisiko tinggi.

OJK melihat salah satu penyebab tingginya risiko produk keuangan ialah gaji para bankir yang tinggi. Bank BUKU II tidak segan-segan membajak manajer dari bank BUKU IV, dengan iming-iming gaji tinggi untuk menggenjot kinerja perusahaan.

Berkaca pada pengalaman Amerika Serikat dan Eropa, krisis 2008 justru dipicu semakin tingginya gaji kaum bankir yang akhirnya mengeluarkan berbagai produk tanpa memikirkan risikonya.

"Belajar dari pengalaman Amerika dan Eropa yang mengalami kolaps, semakin tinggi biaya remunerasi, itu membuat kecenderungan para manajer itu bertindak semakin berani mengambil risiko," kata Deputi Komisioner OJK Bidang Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Mulya E. Siregar.

Rekomendasi