PT Aneka Tambang (Persero) Tbk terancam kehilangan pendapatan sebesar USD 300 juta hingga USD 400 juta. Ini lantaran kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel yang dikeluarkan pemerintah.
"Ada potensi pendapatan kita yang hilang USD 350 juta sampai USD 400 juta, karena 35 persen pendapatan perseroan tahun lalu dan sebelumnya berasal dari ekspor bijih nikel," ujar Direktur Utama Antam Tato Miraza di kantornya, Jakarta, Rabu (26/3).
Tetapi, Tato mengatakan, perseroan telah melakukan beberapa langkah untuk mengantisipasi dampak yang terjadi. Langkah-langkah tersebut seperti efisiensi produksi serta melakukan negosiasi dengan para vendor sehingga mendapatkan suplai bahan baku dengan harga miring
"Kemudian, efisiensi di bidang proyek, investasi, dan operasional. Yang belum terlalu perlu, kita pending," kata dia.
Selain itu, terang Tato, pihaknya berharap beberapa proyek besar seperti Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan dapat selesai pada April 2014. Dia pun menargetkan dalam waktu enam bulan setelah selesai, proyek tersebut dapat memproduksi 135.000 ton hingga 160.000 ton CGA.
"Sehingga ini bisa mengkompensasi pendapatan dari penurunan ekspor ore," pungkas dia.