Industri petrokimia di Indonesia sudah terbangun sejak 30 tahun yang lalu dan sempat menjadi terbesar di Asean. Tetapi, sejak 1995, industri petrokimia Indonesia berbalik tertinggal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Ketua Umum The Indonesia Olefin and Plastic Industry Association (Inaplas) Amir Sambodo menyebut kapasitas produksi industri petrokimia Indonesia hanya sebesar 3,9 juta ton. Sedangkan Malaysia 4 juta ton, Singapura 9,8 juta ton, dan Thailand 12,1 juta ton.
Menurut Amir, industri petrokimia Indonesia masih harus berhadapan dengan sejumlah hambatan. Salah satunya adalah bahan baku yang masih harus diimpor dengan harga tinggi.
"Selain itu, belum ada integrasi menyeluruh antara industri hulu, hilir, dan produk jadi. Juga biaya utilitas yang tinggi mencakup air, listrik, dan gas," kata Amir, di Jakarta, Selasa (11/3).
Di samping itu, tidak memadainya infrastuktur juga menjadi kendala bagi industri petrokimia menarik investor. "Investor harus membangun sendiri jaringan pipa, pelabuhan, jalan, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, minimnya sumber daya manusia terampil juga menjadi penyebab ketertinggalan industri petrokimia Indonesia. "Juga kebijakan Upah Minimum Regional (UMR) yang tiap tahun berubah menjadi kendala dalam aktivitas operasi plastik," pungkas dia.