Pembangunan jalan tol Trans Sumatera sudah digulirkan sejak akhir 2012. Namun hingga saat ini pemerintah belum juga menetapkan skenario pelaksanaan pembangunan jalan tol tersebut.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto , mengatakan skenarionya masih dalam pembahasan. "Kita akan segera lakukan itu (pembahasan). Saya kemarin sudah ketemu Setkab dan itu akan segera ditindaklanjuti," ujar Djoko di sela Konvensi International Federation of Asian And Western Pacific Contractors' Association (IFAWPCA) di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (3/3).
Djoko menyatakan pemerintah akan mengambil opsi yang paling memungkinkan sekaligus paling cepat dijalankan. Ada dua skenario yakni tender atau penugasan.
"Kita akan coba mengambil langkah-langkah yang cepat kita ambil. Pokoknya yang diambil mana yang lebih cepat," kata Djoko.
PT Hutama Karya ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan jalan tol tersebut. Belakangan pemerintah memutuskan mencari pendamping bagi Hutama Karya untuk meminimalkan risiko yang mungkin muncul di tengah pelaksanaan proyek.
Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Tri Widjajanto menyarankan agar pemerintah menggunakan skenario penugasan. Dia mendasarkan hal ini pada kasus tender pembangunan jalan tol ruas Medan-Tebing Tinggi.
"Tender itu kita lihat yang segmen Medan sampai Tebing Tinggi, proses tendernya dimulai dari akhir tahun 2012. Sampai sekarang tendernya belum selesai," ucap Tri.
Dia menyebutkan, proses tender setidaknya membutuhkan waktu 24 bulan atau 2 tahun. Sementara penugasan relatif lebih cepat dilaksanakan.
"Kalau penugasan, kita diberi penugasan. Insya Allah tahun ini kita sudah bisa laksanakan. Setelah itu kita tenderkan konstruksinya. Kontraktor-kontraktor bisa ikut tender karena kita kan sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), bukan sebagai kontraktor," katanya.