UU Minerba diberlakukan, Rusia langsung bangun smelter di Kalbar

Groundbreaking pabrik pengolahan tambang itu dijadwalkan pertengahan 2014. Nilai investasinya mendekati USD 3 miliar.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
UU Minerba diberlakukan, Rusia langsung bangun smelter di Kalbar
Pabrik Baja Krakatau Posco. ©rumgapres/abror rizki

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui investor Rusia bergerak cepat setelah mengetahui Indonesia mulai melarang ekspor bahan tambang mentah mulai tahun ini.

Satu investor asal Negeri Beruang Merah, yakni Rusal, langsung menggandeng perusahaan lokal PT Arbaya Energi untuk membangun smelter di Kalimantan Barat. Fokus keduanya memproduksi alumina dari bahan baku bauksit. Groundbreaking pabrik pengolahan tambang itu dijadwalkan pertengahan tahun ini. Nilai investasinya mendekati USD 3 miliar.

Hatta menambahkan, satu investor Rusia lainnya, V-Holding, mengincar bisnis smelter, walau belum mengajukan izin resmi ke pemerintah. Sektornya juga pengolahan bauksit menjadi alumina.

"Investasi mereka di smelter sangat serius, Russal sampai USD 3 miliar, di Kalimantan Barat. Sedangkan di Kalimantan Timur untuk alumunium, masih penjajakan," ujarnya di Jakarta, Selasa (25/2).

Hatta berharap, investasi smelter asal Rusia bisa terealisasi konkret seluruhnya tahun ini. Soalnya, ekspor tambang bernilai tambah dijadwalkan mulai pada 2016, sesuai amanat Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba).

Ditemui terpisah, dalam acara temu bilateral itu, perwakilan Rusal dan PT Arbaya Energi sekaligus menggelar penandatanganan nota kesepahaman. CEO Rusal Oleg Deripaska mengaku gembira lantaran instalasi pemurnian tambang itu bisa terbangun dengan menggandeng mitra lokal.

"Kami sejak lama sudah berhasrat untuk mengembangkan bisnis ke pasar Asia Tenggara, dan pembangunan smelter ini bisa meningkatkan peran kami dalam bisnis tambang dunia," ujarnya.

Pemilik Arbaya Energi Suryo B. Sulisto juga gembira dipercaya oleh Rusal untuk mengembangkan smelter alumina. Dia meyakini, pemerintah akan diuntungkan walaupun kerja sama ini antara sesama swasta.

"Sudah terlalu lama kita ekspor mentah saja. Tentu saja, dengan smelter ini kita dapat tingkatkan ekspor bernilai tambah," kata pria yang juga menjabat Ketua Kadin ini.

Rekomendasi