PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sepanjang 2013 sebesar 2,11 persen. Angka ini naik dibanding 2012 yang hanya 1,55 persen.Presiden Direktur BII, Taswin Zakaria, mengatakan, selain NPL, masalah pada kinerja tahun lalu juga berasal dari penurunan aktivitas ekspor serta kenaikan suku bunga. "Ada beberapa customer yang naik, Rupiah naik, inflasi naik, BI Rate naik. Terutama di Q3-Q4," ujarnya di Plaza Sentral Senayan, Jakarta, Rabu (19/2).Namun, perseroan mampu meningkatkan rekening nasabah dan kualitas kredit agar kualitas aset tetap terkelola dengan baik dan terjaga pada tingkat yang favorable.Di samping itu, anak perusahaan seperti BII Finance dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM) mampu menunjukkan peningkatan dan memberikan kontribusi yang signifikan.Di mana laba bersih BII Finance naik sebesar 36 persen dari Rp 204,3 miliar menjadi Rp 277,2 miliar. Total pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh 49 persen dari Rp 6,4 triliun menjadi Rp 9,5 triliun disertai kualitas aset dengan NPL gross hanya 0,10 persen dan NPL net 0,08 persen.Begitu juga dengan WOM, berhasil mencatat laba bersih Rp 89,3 miliar dari Rp 28,1 miliar per Desember 2012 dengan total pembiayaan roda dua stabil pada Rp 8,7 triliun. NPL gross turun 2,85 persen dari 3,16 persen pada 2012 dan NPL net naik tipis 1,52 persen dari 1,46 persen.
Rasio kredit macet BII melonjak pada 2013
NPL BII sepanjang 2013 tercatat sebesar 2,11 persen meningkat dari 2012 sekitar 1,55 persen.
Rekomendasi