Kondisi maskapai penerbangan nasional Merpati Nusantara Airlines dinilai sudah sangat kronis. Dengan beban utang mencapai Rp 6,7 triliun, Merpati diprediksi tidak akan pernah bisa bangkit.
Namun demikian, terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan Merpati untuk bangkit. Hal itu terletak pada potensi yang dimiliki Merpati sebagai satu-satunya maskapai yang melayani rute-rute feeder (penghubung) dan perintis
"Laporan keuangan Merpati, yang masih hijau itu MA 60, itu untuk rute-rute feeder dan perintis. Dari usulan yang ada, perlu dibentuk Merpati baru yang fokus di feeder," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti dalam diskusi 'Sayap Patah Merpati' di Cikini, Jakarta, Sabtu (8/2).
Herry mengatakan, seluruh pesawat yang dimiliki Merpati lebih baik difokuskan untuk melayani penerbangan feeder. "Apalagi ke depan, PT DI akan memproduksi N209. Masukkan juga di sana," kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Praktisi Penerbangan Arista Atmadjati mengatakan, Merpati sebenarnya masih dapat beroperasi di kawasan timur Indonesia. Menurut dia, masih banyak bandara dengan rute pendek di timur Indonesia.
"Di Indonesia ada 233 bandara dengan runway pendek. Kebanyakan bandara itu ada di luar rute besar, yang memang menjadi rutenya Merpati," terang Arista.
Lebih lanjut, Arista menegaskan, Merpati masih memiliki peluang untuk bangkit dengan memfokuskan diri dalam pelayanan rute feeder. Sebab, menurut dia, tidak banyak maskapai yang melayani rute ini.
"Di kawasan timur Indonesia masih banyak bandara-bandara kecil, tapi sedikit yang mau melayani," pungkas dia.