Keterampilan berbisnis Hannah Valentine telah terasah sejak duduk di bangku SMA. Perjalanannya dimulai pada tahun 2017 ketika ia mencoba menjual pakaian pribadinya yang sudah tidak terpakai melalui platform Depop.
Di luar dugaannya, barang-barang tersebut laku keras dalam waktu singkat. Kesuksesan awal ini mendorong Hannah untuk mulai membeli stok pakaian bekas dari toko loak untuk dijual kembali secara daring.
Mengutip laman Business Insider, kegemaran terhadap barang bekas bukanlah hal baru bagi Hannah. Ia tumbuh dalam keluarga yang terbiasa berbelanja pakaian bekas (thrifting). Bahkan, sebagian besar furnitur di kediamannya merupakan barang bekas.
Berkat ketekunannya dalam mengelola bisnis ini, Hannah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Lindenwood University dan membiayai kuliahnya selama tiga tahun terakhir secara mandiri.
Setamat dari perguruan tinggi, Hannah memutuskan untuk fokus mengelola bisnis ini sebagai pekerjaan utama. Tahun ini, ia berhasil mengantongi penghasilan kotor sekitar USD 48 ribu. Setiap harinya, Hannah mencurahkan waktu hingga 12 jam untuk berburu stok pakaian, mencuci, memperbaiki jahitan yang rusak, hingga memproduksi konten promosi untuk media sosial.
Meski mengawali bisnis melalui Depop, Hannah kini mengalihkan fokus penjualannya. Sebanyak 98 persen pendapatannya kini berasal dari ajang pameran (pop-up market), strategi yang dinilainya jauh lebih efektif.
Saat musim pameran berlangsung, Hannah dapat menghadiri dua hingga tiga pop-up market setiap akhir pekan. Volume penjualannya mampu mencapai 250 potong pakaian dalam sehari, dengan patokan harga berkisar antara USD 20 hingga USD 30 per potong.
Hannah menegaskan bahwa ia tidak pernah menjual pakaian di bawah harga USD 20. Batas harga ini ditetapkan mengingat rumitnya proses rekondisi yang harus ia lakukan secara mandiri, mulai dari membersihkan noda, merapikan bagian yang robek, mengganti kancing hilang, hingga memasang ritsleting baru demi menjaga kualitas produk.
Advertisement
Proses Pemilahan Pakaian Bekas
Proses pemilahan pakaian bekas pun menuntut kehati-hatian ekstra. Dengan selalu mengenakan sarung tangan, Hannah kerap menemukan benda-benda tak terduga yang kurang higienis. Sebagian besar stok barangnya ia peroleh dari Goodwill Outlet, tempat di mana pakaian bekas dijual berdasarkan bobot timbangan.
Salah satu pencapaian terbaiknya adalah saat menemukan mantel vintage merek Donnybrook seharga USD 40 di Facebook Marketplace. Mengetahui mantel tersebut mirip dengan yang pernah dikenakan oleh penyanyi kenamaan Rihanna, Hannah berhasil menjualnya kembali seharga USD 450 di Detroit.
Bagi Hannah, bisnis thrifting bukan sekadar sarana mencari keuntungan finansial, melainkan juga bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Melihat melimpahnya tumpukan tekstil bekas yang belum terpakai, ia aktif mengajak masyarakat untuk beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas (secondhand).
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani