Setelah menyatakan komitmennya melunasi utang sebesar USD 1,78 miliar pada China Investment Corporation (CIC) pada tahun ini, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) juga berjanji akan segera menyelesaikan utang sebesar USD 425 juta kepada Credit Suisse.
Namun, perseroan membutuhkan waktu tambahan untuk melunasi kewajibannya membayar utang. Utang perusahaan milik Aburizal Bakrie ini akan jatuh tempo pada September 2013.
"Kami sudah melakukan perpanjangan hingga Desember 2013. Perpanjangan ini sudah selesai dilakukan agar nantinya tidak ada penalti. Biar dapat melakukan refinancing utang ke Credit Suisse," ujar Direktur Keuangan BRMS, Fuad Helmy saat paparan publik BRMS di Gren Melia, Jakarta, Kamis (28/11).
Seperti diketahui BRMS mempunyai utang Credit Suisse melalui anak usahanya PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Sebagai jaminan memperoleh utang dari Credit Suisse, PT MDB memberikan jaminan saham PT Newmont Nusa Tenggara.
Sebelumnya, Bumi Resources optimis dapat menyelesaikan utangnya kepada China Investment Corporation (CIC) akhir tahun 2013 ini. Direktur BUMI Andrew C Beckham memaparkan, dari total utang yang mencapai sebesar USD 1,787 miliar atau sekitar Rp 20,8 triliun ke CIC tersebut, untuk tahap awal perseroan akan membayar USD 1,357 miliar.
Dana sebesar USD 1,357 miliar akan didapat perseroan melalui penjualan saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 19 persen atau setara USD 950 juta, kemudian menjual saham BRMS sebesar 42 persen atau setara USD 257 juta, dan Rights Issue BUMI yang mencapai USD 150 juta.
"Untuk total yang akan kami bayar dalam melunasi utang sebesar USD 1,357 miliar, dari total utang yang mencapai USD 1,787 miliar. Sehingga perbedaan atau sisa utang antara kami dengan CIC mencapai sebesar USD 430 juta," ungkap Andrew di Hotel Aston Rasuna, Jakarta, Rabu (20/11).
Adapun total utang yang dimiliki perseroan hingga kuartal III-2013 sebesar USD 4,220 miliar. Dengan melunasi utang perseroan kepada CIC, maka utang perseroan tinggal sebesar USD 2,802 miliar.