Mentan: Surat izin impor rawan dijualbelikan

Ada surat edaran di Australia yang meminta pengusaha berhati-hati terhadap rekan bisnis dari Indonesia.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Mentan: Surat izin impor rawan dijualbelikan
Suswono . ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mencecar Menteri Pertanian Suswono soal perizinan impor produk hortikultura. Disinyalir, sebagian importir berbuat nakal dengan menjual izinnya mendatangkan buah dan sayur dari luar negeri.

Anggota Komisi IV Ibnu Multazam mengungkap adanya indikasi itu dengan adanya surat edaran asosiasi eksportir hortikultura Australia agar waspada dengan mitra bisnis dari Indonesia. Sebab, banyak importir abal-abal mendatangkan barang dengan RIPH bukan miliknya.

"Apa benar yang seperti ini, jual beli RIPH memang terjadi di lapangan, sampai ada surat edaran di Australia," ujarnya di ruang rapat Komisi IV, gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/3).

Suswono berjanji bakal menelusuri indikasi tersebut. Namun dari perkiraannya, aktivitas importir nakal bukanlah memperjualbelikan kuota impor dalam RIPH, melainkan Surat Persetujuan Impor (SPI) yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan.

"Yang kemungkinan diperjualbelikan itu SPI, kalau RIPH kan dia masih harus mengurus ke Kementan, (kalau SPI) dia bisa jadi hitung-hitungan, kalau mereka tidak melakukan importasi akan dicabut SPI-nya," kata Suswono.

Di sisi lain, potensi kebocoran jatah importasi hortikultura adalah Importir Produsen (IP) yang nakal. IP yang kebanyakan industri seharusnya mendatangkan bawang dari China untuk kebutuhan produksi internal, dan dilarang menjual jatah mereka ke pasar. Namun kuotanya dalam RIPH sangat besar, sehingga rawan penyimpangan.

Mentan menyatakan jika ditemukan ada pelanggaran kuota impor, dia bakal menindak tegas. "Tentu sanksinya dicabut izin impornya," tegasnya.

Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu Agung Kuswandono membenarkan kekhawatiran anggota dewan. Sebab, setelah barang keluar dari pelabuhan, tidak ada jaminan IP akan benar-benar memakai produk impor mereka untuk kebutuhan produksi.

"Betul tidak apakah importasi IP dipakai di pabriknya sendiri. Pengawasan itu yg penting. Terus terang kita dalami, memang ada satu hole, ketika barang sudah release, siapa mau mengawasi," ungkap Agung.

Rekomendasi