Rupiah masih belum dapat menunjukkan keperkasaannya terhadap USD. Dalam sepekan ini, rupiah tak berdaya menandingi USD. "Pekan ini rupiah masih akan dikisaran Rp 9.300-9.400 per USD," ujar Chief Economist Bank Mandiri Destry Damayanti di Plaza Mandiri, Rabu (23/5).
Menurutnya, volatilitas nilai rupiah ini masih dipengaruhi oleh impor minyak yang tinggi dan menyebabkan defisit. "Defisit makin besar impor minyak tinggi sekali karena konsumsi juga tinggi. Karena itu konsumsi BBM harus dibatasi," jelasnya.
Selain faktor itu, penanaman modal asing yang semakin deras akibat peringkat layak investasi (investment grade) yang diperoleh Indonesia, juga memberi pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
"FDI kita yang masuk kenceng, otomatis uang yang mereka hasilkan kembali ke negaranya. Yang perlu dilakukan adalah gimana caranya supaya mereka mau reinvest lagi di Indonesia," papar Destry.
Namun, Destry menambahkan bahwa saat ini Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah sejalan dalam menjaga volatilitas rupiah ini. "Bagusnya,BI dan Kemenkeu sudah kompak dalam menjaga rupiah," tutup Destry.