Gerakan IHSG pada perdagangan akhir pekan ini, diperkirakan akan bergerak datar. Saham-saham sektor riil dalam negeri berpotensi menjadi penghambat kenaikan IHSG jangka panjang.
"Saham sektor energi dan pertambangan dihindari," ujar pengamat pasar modal Askap Futures Suluh A. Wicaksono saat dihubungi merdeka.com, Kamis malam (10/5).
Beberapa saham yang menunjukkan pola pergerakan positif pada perdagangan hari ini, Jumat (11/5) antara lain Astra International (ASII), Gudang Garam (GGRM), Bank BCA (BBCA), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS).
Bila melihat arah pergerakan indeks di Wall Street, di mana Dow Jones ditutup menghijau 19,98 poin atau 0.16 persen, IHSG diperkirakan juga akan mengikuti dengan pergerakan yang tipis.
"Jika wallstreet negatif maka besok IHSG juga akan terseret di pembukaan. Perjalanan transaksi akan mengikuti regional asia lainnya," katanya. IHSG pada pembukaan perdagangan akhir pekan ini diperkirakan akan bergerak pada kisaran 4100 sampai 4200. Pergerakannya cenderung negatif.
Menurut Suluh, meskipun pengaruh positif lumayan cukup banyak, beberapa hal juga masih menjadi penghambat laju IHSG. Dia menyebutkan, suku bunga acuan Bank Indonesia yang tidak mengalami perubahan, bisa membuat IHSG tetap berada di jalur hijau meski tipis. Di sisi lain, suku bunga kredit masih dinilai terlalu tinggi yang kemungkinan akan jadi faktor negatif di beberapa waktu kedepan.
"Jika suku bunga kredit masih tinggi maka orang akan enggan melakukan kredit. Potensi untuk gagal bayar juga tinggi. Sektor perbankan nantinya yg pertama terkena imbasnya. Kemudian diikuti oleh inflasi yang tinggi hingga semester I akhir juni nanti," jelasnya.