PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak usaha PT Pertamina (Persero) berencana menambah 8 sumur gas Coal Bed Methane (CBM) tahun ini. Nilai investasi yang dibutuhkan mencapai USD 10-12 juta.
Untuk lokasinya, 4 sumur di Sangatta dan 4 sumur lainnya di wilayah Sumatera. "Dana pengeboran per sumur USD 1,5 juta. Karena sumurnya dangkal dan cepat," ujar Direktur Utama PHE Salis Aprilian di Jakarta, Senin (9/4).
Namun, distribusi hasil produksi gas tersebut belum diketahui akan diarahkan kemana. Meningat proyek gas CBM masih terbentur persoalan minimnya infrastruktur pendukung.
Tahun ini, Sangatta sudah memproduksi gas sebesar 1,2 mmscfd, Muara Enim 0,54 mmscfd, Sangatta II 0,48 mmscfd, Tanjung Enim 0,25 mmscfd. "Ini sedang garap CBM untuk menjadi power (listrik) di Sangatta dan Muara Enim. Sedang dibahas dengan PLN dan BP Migas," lanjutnya.
Potensi gas CBM sendiri terbilang masih rendah. Alasannya masih tahap uji coba, sehingga produksi gas CBM masih dibakar atau diflare dan belum digunakan.
"Di Sangatta ada 3 sumur dan Tanjung Enim 4 sumur, karena CBM itu kita harus keluarkan air (dewatering), nanti gas keluar sendiri. Dia low pressure dan tidak terlalu banyak. Harus dibor banyak, dikumpulkan dan ada kompressor," jelas Salis.
Terkait penggunaannya, PT Pertamina Gas akan berupaya mendorong penggunaan gas untuk operasional PLN. "PHE akan jual di well head, setelah itu Pertagas yang mengurus. Pertagas kalau itu untuk PLN dan lain-lain, ada hitungannya sendiri. Ada fee tergantung jarak dari sumur," katanya.
Sekadar diketahui, saat ini PHE menangani proyek gas CBM sebanyak 11 lapangan yaitu 5 operator dan 6 partner.