Produksi GKG Cianjur 2025 Diprediksi Melonjak 20 Persen, Capai 750 Ribu Ton

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Cianjur memproyeksikan produksi GKG Cianjur tahun 2025 akan mencapai 750 ribu ton, naik signifikan. Cianjur berpotensi besar kembali surplus beras.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Produksi GKG Cianjur 2025 Diprediksi Melonjak 20 Persen, Capai 750 Ribu Ton
Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Cianjur memproyeksikan produksi GKG Cianjur tahun 2025 akan mencapai 750 ribu ton, naik signifikan. Cianjur berpotensi besar kembali surplus beras. (AntaraNews)

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat proyeksi produksi gabah kering giling (GKG) yang menjanjikan. Pada tahun 2025, produksi GKG Cianjur diperkirakan mencapai 750 ribu ton. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sekitar 20 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang berada di angka 630 ribu ton.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana, pada Minggu (09/11) menjelaskan bahwa asumsi rendemen rata-rata lima tahun terakhir sebesar 58 persen menjadi dasar perhitungan. Dengan asumsi tersebut, total estimasi produksi beras Cianjur diprediksi akan berada di angka 450 ribu ton. Proyeksi ini mengindikasikan surplus beras yang akan kembali dicatat oleh Kabupaten Cianjur.

Dandan menambahkan, Kabupaten Cianjur bahkan berpeluang melampaui target surplus beras hingga 20 persen dari target 700 ribu ton yang telah ditetapkan. Kondisi ini menegaskan posisi Cianjur sebagai salah satu lumbung padi penting di Jawa Barat. Peningkatan produksi ini diharapkan dapat berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Peningkatan produksi GKG Cianjur menjadi 750 ribu ton pada tahun 2025 merupakan kabar baik bagi sektor pertanian daerah. Angka ini mencerminkan upaya intensif dalam meningkatkan produktivitas lahan. Dengan estimasi produksi beras mencapai 450 ribu ton, Cianjur dipastikan akan kembali mengalami surplus.

Surplus beras ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi menyokong pasokan beras untuk wilayah lain. Dandan Hendrayana menegaskan bahwa Cianjur memiliki potensi besar untuk melampaui target surplus yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan efektivitas program dan kebijakan pertanian yang diterapkan di Cianjur.

Data hingga Agustus 2025 menunjukkan luas panen mencapai 111 ribu hektare dan masih berpotensi bertambah. Periode November hingga Desember menjadi krusial karena sejumlah kecamatan penyumbang produksi tertinggi akan memasuki masa panen. Optimisme ini didasarkan pada kondisi lahan dan iklim yang mendukung.

Kenaikan produksi GKG Cianjur dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci. Salah satunya adalah bertambahnya luas tanam dari 158 ribu hektare pada tahun 2024 menjadi 166 ribu hektare pada tahun 2025. Peningkatan luas tanam ini menjadi indikator positif bagi keberlanjutan sektor pertanian.

Selain itu, cuaca kemarau basah yang terjadi serta perbaikan infrastruktur irigasi turut mendukung kenaikan luas tanam dan potensi panen. Kondisi cuaca yang mendukung sangat vital bagi pertumbuhan padi yang optimal. Perbaikan irigasi memastikan ketersediaan air yang cukup untuk lahan pertanian.

Beberapa kecamatan di Cianjur menjadi penyumbang produksi tertinggi. Kecamatan Naringgul dan Cidaun memiliki lahan sawah lebih dari 4.000 hektare. Kecamatan lain dengan luas sawah di atas 3.000 hektare meliputi Cibeber, Karangtengah, Pagelaran, Agrabinta, Kadupandak, dan Sukaresmi. Wilayah-wilayah ini menjadi tulang punggung produksi padi di Cianjur.

Seiring meningkatnya hasil produksi pertanian, DTPHPKP Cianjur memberikan perhatian khusus pada beberapa kecamatan. Kecamatan Pagelaran, Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta, dan Naringgul menjadi fokus utama. Penguatan fasilitas dan infrastruktur pertanian di wilayah ini bertujuan untuk mengakselerasi produksi.

Dandan Hendrayana mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2020 hingga 2024, Kabupaten Cianjur konsisten menjadi produsen padi terbesar keempat di Jawa Barat. Peringkat ini berada setelah Indramayu, Karawang, dan Subang. Cianjur menunjukkan tingkat surplus yang stabil antara 19 hingga 20 persen, dan kondisi ini diproyeksikan berlanjut hingga tahun 2026.

Tingkat konsumsi masyarakat di Cianjur juga tidak mengalami lonjakan signifikan. Penambahan penduduk sekitar 30 ribu jiwa hanya menambah kebutuhan beras sekitar 23 ribu ton dalam satu tahun. Hal ini membuat potensi surplus beras Cianjur tetap terjaga. Kondisi ini memperkuat posisi Cianjur sebagai lumbung padi yang stabil dan terpercaya di Jawa Barat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi