Prajogo Pangestu, Bos Chandra Asri yang Dulunya Sopir Angkot Diduga Kena Palak Rp5 Triliun
Forbes sendiri menempatkan Prajogo Pangestu peringkat keempat dalam daftar orang terkaya di Indonesia per Mei 2025.
Masyarakat dihebohkan dengan video viral yang menampilkan Kadin Cilegon bersama Ormas setempat diduga memalak kontraktor asal China, Chengda Engineering Co yang ditugaskan menggarap proyek investasi pembangunan Chandra Asri Alkali (CAA). Dalam narasi video yang beredar nilai pemerasan mencapai Rp5 triliun.
Proyek yang dikerjakan oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak usaha Chandra Asri Group, tersebut merupakan pembangunan pabrik untuk memproduksi 400 ribu ton kaustik soda basah dan 500 ribu ton ethylene dichloride (EDC) per tahun dengan nilai investasi sekitar Rp15 triliun.
Diketahui Chandra Asri Group sendiri milik konglomerat Prajogo Pangestu. Forbes sendiri menempatkan Prajogo Pangestu peringkat keempat dalam daftar orang terkaya di Indonesia per Mei 2025. Tercatat, total kekayaan Prajogo mencapai sebesar USD 20,1 miliar atau sekitar Rp331 triliun.
Menariknya, Prajogo Pangestu tidak terlahir dari keluarga kaya. Bahkan dia pernah berprofesi sebagai seorang sopir angkot sebelum menjadi orang terkaya di Indonesia.
Selanjutnya, Prajogo mencoba menjalankan bisnisnya sendiri. Langkah pertama yang diambil yaitu meminjam modal melalui BRI untuk membeli perusahaan kayu bernama CV Pacific Lumber Coy.
Perusahaan tersebut kala itu sedang mengalami kesulitan keuangan. CV Pacific Lumber Coy pun sepenuhnya milik Prajogo. Berbekal pengalaman yang dia miliki dan insting bisnis yang baik, CV tersebut berganti nama menjadi PT Barito Pacific.
Berkembang Pesat di Era Presiden Soeharto
Berkat tangan dinginnya, Barito Pacific berkembang pesat. Di zaman pemerintahan Presiden Soeharto, Prajogo banyak bekerja sama dengan perusahaan dari anak-anak dan kolega dari Soeharto. Memasuki tahun 2000, bisnis pengolahan kayu mengalami kemunduran. Ini ditandai dengan ditutupnya beberapa pabrik pengolahan kayu perusahaan mulai tahun 2004 hingga tahun 2007.
Prajogo kemudian mengubah arah bisnis perusahaan ke bisnis Petrokimia dan Energi sejak tahun 2007. Di tahun itu juga, dia mengambil alih 70 persen saham perusahaan petrokimia bernama PT Chandra Asri.
Di tahun 2011, Chandra Asri dan Tri Polyta Indonesia melakukan merger atau penggabungan. Ini kemudian membuat perusahaan yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu menjadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia.
Sementara itu, informasi terbaru Polda Banten telah memeriksa Ketua Kadin Cilegon, Muhammad Salim, pada Kamis, 15 Mei 2025, terkait viralnya video yang meminta proyek Rp5 triliun tanpa lelang. Dirinya enggan berkomentar banyak mengenai pemeriksaan tersebut.
"Belum selesai. Nanti aja belum ada komentar," ujar Ketua Kadin Cilegon, Muhammad Salim, Kamis, (15/5).
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Didik Hariyanto memastikan semua pihak yang berada di video tersebut hingga pihak yang dianggap terlibat akan dimintai keterangannya oleh Polda Banten.
Polisi ingin memastikan semua proses berjalan sesuai aturan yang berlaku. Pemeriksaan akan dilakukan secara maraton untuk memastikan adanya unsur pidana sebelum memutuskan ada tidaknya tersangka dalam dugaan pemalakan proyek Rp5 triliun tersebut.
"Kalau unsurnya terpenuhi akan naik sidik. (Pemeriksaan) Terus lah, yang namanya penyelidikkan terus akan kita mintai keterangan semua yang ada disitu sesuai perannya dan ngomong apa," jelasnya.