Kawasan bekas Gelar Teknologi Pertanian pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Desa Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, akan bertransformasi menjadi destinasi Agrowisata Gorontalo yang inovatif. Inisiatif ini bertujuan untuk mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, edukasi, dan pariwisata dalam satu lokasi terpadu, menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung.
Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, memastikan pemanfaatan berkelanjutan lokasi tersebut setelah berakhirnya PENAS XVII. Peninjauan langsung ke lokasi pada Sabtu, 27 Juni 2026, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi area ini.
Hasil koordinasi dengan pemilik lahan menunjukkan bahwa kawasan seluas 1,8 hektare ini akan tetap difungsikan sebagai lahan pertanian produktif. Pengembangan menjadi agrowisata diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan edukasi yang signifikan bagi masyarakat luas.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Provinsi Gorontalo, di bawah kepemimpinan Wakil Gubernur Idah Syahidah, berkomitmen penuh untuk memastikan lokasi bekas PENAS XVII tidak terbengkalai. "Hasil pertemuan dengan pemilik lahan memastikan kawasan ini tetap difungsikan sebagai lahan pertanian dan akan dikembangkan menjadi agrowisata yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat," ujar Idah.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur Idah didampingi oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Mario Mulyadi, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian. Peninjauan fasilitas yang telah dibangun selama PENAS XVII menjadi bagian penting dari upaya perencanaan ini.
Pemerintah Provinsi Gorontalo telah berkoordinasi dengan kementerian terkait agar sejumlah fasilitas yang telah dibangun, seperti saung dan kolam bioflok, tetap dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi pertanian dan perikanan. Fasilitas ini mendukung konsep Agrowisata Gorontalo yang edukatif.
Advertisement
"Kami ingin memastikan lokasi ini tetap memberikan manfaat setelah PENAS selesai. Agrowisata ini diharapkan menjadi ikon baru Gorontalo sekaligus pusat edukasi pertanian dan perikanan," tambah Idah. Ia juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan pemeliharaan kawasan.
Advertisement
Lian A.W. Hapulu, selaku pemilik lahan, menyatakan bahwa keluarganya telah memutuskan untuk mempertahankan fungsi pertanian pada lahan seluas 1,8 hektare tersebut. Keputusan ini sejalan dengan visi pengembangan menjadi Agrowisata Gorontalo yang berkelanjutan.
"Kami melihat kawasan ini akan lebih bermanfaat jika dijadikan agrowisata. Nantinya tetap menjadi lahan pertanian yang dilengkapi kolam ikan, area pemancingan, tanaman buah yang bisa dipetik, serta berbagai fasilitas edukasi yang dapat dinikmati masyarakat," jelas Lian. Konsep ini menawarkan pengalaman interaktif bagi pengunjung.
Pengembangan ini diharapkan dapat terwujud melalui kolaborasi erat antara pemilik lahan, pemerintah daerah, dan kementerian terkait. Sinergi ini krusial untuk menciptakan destinasi wisata edukasi yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitar.
Advertisement
Agrowisata ini akan menjadi contoh bagaimana lahan pertanian dapat dioptimalkan untuk tujuan rekreasi dan pendidikan. Dengan fokus pada keberlanjutan dan keterlibatan komunitas, Agrowisata Gorontalo berpotensi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas seperti memetik buah langsung dari pohonnya, belajar teknik budidaya ikan di kolam bioflok, atau bahkan berpartisipasi dalam kegiatan pertanian sederhana. Ini tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi yang menyenangkan tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sektor pertanian dan perikanan. Selain itu, pengembangan agrowisata ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, mulai dari pemandu wisata, pengelola kebun, hingga penjual produk lokal. Hal ini akan secara langsung meningkatkan perekonomian lokal dan kesejahteraan masyarakat Desa Kayubulan dan sekitarnya. Dengan demikian, Agrowisata Gorontalo tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat pembelajaran dan penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews