Minyak Goreng Curah Dilarang, Pedagang Nasi Padang Ancam Naikkan Harga Jualan

Selasa, 8 Oktober 2019 10:06 Reporter : Anggun P. Situmorang
Minyak Goreng Curah Dilarang, Pedagang Nasi Padang Ancam Naikkan Harga Jualan nasi kapau dan nasi padang. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Perdagangan menetapkan mulai 1 Januari 2020, masyarakat tak lagi menemukan minyak goreng curah di pasaran. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan alasan kesehatan, sebab minyak goreng curah rawan dioplos.

Bersamaan dengan ini, per awal 2020, minyak goreng curah akan menyesuaikan harga dengan minyak yang dijual dalam kemasan. Adapun Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak kemasan Rp11.000 per liter, sementara HET minyak curah Rp10.500 per liter.

Pedagang Nasi Padang Cawang, Martini mengeluhkan keputusan pemerintah tersebut. Selama ini dagangannya menggunakan minyak goreng curah karena harga lebih murah.

"Kita pakai minyak curah karena lebih murah. Kalau dilarang, susah juga ngakalinnya. Kemasan kan nggak tentu harganya, cari yang paling murah juga tetap mahal dia itu," ujarnya saat ditemui merdeka.com di Cawang, Jakarta, Selasa (8/10).

Kebutuhan minyak harian Martini sekitar 5 sampai 7 liter per hari. Apabila dihitung, maka pengeluaran khusus untuk minyak curah sekitar Rp52.500 sampai Rp73.500 per hari. Sementara jika pakai minyak kemasan, cost yang dikeluarkan meningkat menjadi Rp55.000 sampai Rp77.000 per hari.

"Kalau dihitung-hitung bisa segitu sehari. Tapi kan kita jualan, bukan cuma hitung sehari. Pakai minyak kemasan juga susah, Bimoli itu berapa coba? Ada yang lebih murah, tapi jarang juga ketemu harga Rp11.000 per liter itu," katanya.

1 dari 2 halaman

Harga Nasi Padang Naik

Tak menutup kemungkinan, nasi padang akan naik harga bila pemerintah benar-benar menghilangkan minyak curah. "Bisa naik harganya, karena nggak ada pedagang mau rugi. Kita pun sama. Minyak itu termasuk kebutuhan utama memasak ya. Jadi pasti ada naiknya," kata wanita berusia 45 tahun itu.

Martini menambahkan, pemakaian minyak goreng kemasan juga membuat sampah semakin banyak. Beda dengan minyak curah yang cukup hanya pakai jerigen yang dapat dipakai berulang kali tanpa harus diganti tiap hari.

"Minyak curah nih, kita ke toko kelontong langganan tinggal kasih aja jerigen biasa, dia isi, kita pulang. Kalau kemasan, beli, nimbun sampahnya lagi, repot lagi. Nanti pemerintah marah lagi gara-gara sampah. Ada sih yang pakai kemasan jerigen tapi mahal, orang kaya doang bisa beli itu yang bukan untuk jualan kaya kita gini," keluhnya.

Dia berharap pemerintah tak asal-asalan membuat keputusan apalagi keputusan yang langsung berhubungan dengan masyarakat kecil. "Kita harap jangan ada kaya ginilah, tiba-tiba bilang dilarang, pusing kita. Hidup sudah susah, harus mikirin minyak goreng lagi. Kerjaan kita kan jualan, jangan diganggu-ganggu," tandasnya.

2 dari 2 halaman

Alasan Mendag Larang Minyak Goreng Curah

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pihaknya akan melarang peredaran minyak goreng curah eceran beredar di pasaran mulai 1 Januari 2020. Mengingat, larangan ini sudah direncanakan sejak tahun 2015.

"Kita sepakati per tanggal 1 Januari 2020, seluruh produsen wajib menjual atau memproduksi minyak goreng dalam kemasan dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan tak lagi mensuplai minyak goreng curah," kata Enggar di Sarinah, Jakarta, Minggu (6/10).

Dia menjelaskan, minyak goreng eceran tak memiliki jaminan kesehatan sama sekali sehingga membahayakan kesehatan masyarakat. Meski demikian, dia tidak menjelaskan lebih rinci mengenai sanksi untuk pihak yang masih melanggar.

"Menurut kami dari sisi kesehatan itu berbahaya dari masyarakat, bekas, bahkan ngambil dari selokan, dan sebagainya," imbuhnya. [idr]

Baca juga:
Menko Darmin Klaim Larangan Minyak Goreng Curah Tak Akan Pengaruhi Daya Beli
Mulai 1 Januari, Penjualan Minyak Goreng Curah Dilarang dan Harga Akan Naik
Januari 2020, Minyak Goreng Curah Dilarang Beredar di Pasaran
Pengusaha Minta Pemerintah Tegas Larang Peredaran Minyak Jelantah

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini