PLN EPI Beberkan Kunci Utama Bangun Reputasi Perusahaan

PLN EPI tegaskan reputasi korporasi tak cukup dibangun lewat publikasi, melainkan butuh legitimasi, sinergi, dan kolaborasi nyata para stakeholder.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
PLN EPI Beberkan Kunci Utama Bangun Reputasi Perusahaan
PLN EPI Beberkan Kunci Utama Bangun Reputasi Perusahaan

Membangun reputasi dan kepercayaan publik bagi sebuah korporasi tidak bisa hanya mengandalkan gempuran publikasi. Komunikasi yang terukur, kolaborasi erat, serta dukungan konkret dari para pemangku kepentingan menjadi pilar utama yang tak kalah krusial. 

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, saat menjadi pembicara dalam Conference The 8th Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 yang digelar di Monumen Pers Nasional, Surakarta belum lama ini.

Dalam pemaparannya yang berjudul 'From Communication to Trust: Mengelola Stakeholder dan Reputasi di Tengah Ekspektasi Publik', Mamit menyoroti linimasa bisnis energi primer—mulai dari gas, LNG, batu bara, hingga biomassa yang sangat bergantung pada fondasi kepercayaan dari pemerintah, regulator, mitra bisnis, media, hingga masyarakat luas.

"Ketika stakeholder utama Anda adalah pemerintah dan mitra bisnis dalam business-to-business (B2B) dan government-to-business (G2B), kepercayaan tidak dibangun lewat jangkauan, tetapi lewat legitimasi: kesediaan pejabat dan mitra untuk berdiri bersama narasi yang Anda bangun," ujar Mamit.

Untuk menopang pembangunan infrastruktur energi, khususnya pada proyek gasifikasi pembangkit, PLN EPI mengusung formula komunikasi khusus: inform, engage, dan trust. Langkah ini direalisasikan melalui pemetaan stakeholder yang cermat, narasi yang konsisten, serta penguatan sinergi bersama instansi pemerintah dan mitra strategis.

Hasil nyata dari strategi ini terlihat pada program komunikasi GASKITA yang menyokong proyek gasifikasi PLN EPI. Program tersebut sukses mendongkrak volume pemberitaan dari 758 laporan pada Agustus 2025 menjadi 1.194 laporan hingga Juli 2026, atau melonjak sekitar 57 persen.

Kendati demikian, Mamit mengingatkan bahwa tingginya angka publikasi bukanlah tolok ukur tunggal keberhasilan. Kredibilitas jangka panjang perusahaan justru sangat ditentukan oleh legitimasi institusi, dukungan pemangku kepentingan, dan keberlanjutan kerja sama.

"Strategi komunikasi yang kami rancang dimulai dari pemetaan stakeholder berdasarkan power dan interest, pendekatan kepada regulator, kepala daerah, mitra bisnis hingga media. Pada akhirnya, legitimasi institusional menjadi mata uang kepercayaan bagi kami," jelas Mamit.

Pentingnya Keterbukaan

Pada kesempatan yang sama, Founder dan CEO Humas Indobesia Asmono Wikan menggarisbawahi pentingnya keterbukaan dan komunikasi dua arah demi merawat kepercayaan publik. Menurutnya, insan kehumasan harus bertransformasi dari sekadar penyebar berita menjadi fasilitator ruang dialog yang responsif terhadap ekspektasi publik. 

Selain PLN EPI dan Humas Indonesia, konferensi ini juga menghadirkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Mochamad Akbar Hadi Prabowo serta Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University Alfian Helmi. 

Bagi PLN EPI, komunikasi korporat adalah instrumen vital dalam merawat hubungan dan kepercayaan pemangku kepentingan demi menjaga ketahanan energi nasional. Sebab, publikasi berfungsi menciptakan visibilitas, kolaborasi memperkokoh legitimasi, dan konsistensi pada akhirnya melahirkan kepercayaan.

Rekomendasi