Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung (Kejagung) menyalurkan Rp 229.428.515.741 kepada para korban kasus KSP Indosurya pada Selasa (20/10/2026). Dana dikembalikan secara proporsional, namun nilainya masih jauh dari total kerugian para nasabah.
Christian, korban KSP Indosurya berusia sekitar 40 tahun, menyebut pengembalian tahap pertama baru mencakup sekitar 2,8 persen dari total dana yang tercatat melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). "Yang ingin saya sampaikan ini kan yang dibagikan sekitar Rp 229 miliar, itu total semua yang memasukkan ke LPSK itu kan Rp 8.006.000.000.000, jadi kita dapat tuh masing-masing kurang lebih 2,8 persen," ujar Christian di Kantor BPA Kejaksaan, Selasa (20/10/2026).
Ia mengapresiasi langkah awal ini, tetapi berharap pemulihan tidak berhenti pada tahap pertama. "Kalau untuk saya pribadi, atau total, kan yang dikembalikan hanya saat ini, yang diprorate hanya 2,8 persen. Walaupun ya cukup apresiasi sih. Ini kan awal, jadi masih jauh sekali," kata dia.
Advertisement
Penelusuran Aset yang Belum Tersentuh
Bagi Christian, pengembalian dana tidak cukup hanya mengandalkan uang yang berhasil dipulihkan. Ia mendorong penelusuran aset-aset lain yang berkaitan dengan perkara untuk memperbesar peluang penggantian kerugian.
Ia menyebut ada aset yang tercantum dalam putusan pengadilan namun belum disita atau dilelang. Bahkan, ada dugaan penggelapan atas aset yang sebelumnya telah disita, termasuk kendaraan yang disebut telah dijual.
"Ini kan untuk tahap pertama memang, tapi masih jauh sekali. Memang ada aset-aset lain. Aset-aset lainnya itu yang sudah disita pun belum dilelang. Dan ada juga aset yang sudah disita tapi digelapkan juga, ada dugaan pengelapan. Itu yang sudah disita digelapkan itu pun, yang terakhir ketiga yaitu mobil," kata dia.
Christian berharap BPA menelusuri keberadaan aset-aset tersebut, termasuk yang diduga telah dialihkan meski sebelumnya sudah disita. "Itu digelapkan sama dicurigai dari orang Indonesia juga. Jadi sudah dijual, walaupun sudah disita. Dan untuk aset-aset yang belum disita pun ada aset-aset lain yang setelahnya belum sama sekali juga sudah disita padahal ada di keputusan pengadilan. Itu yang kita korban, ingin meminta kepada BPA itu juga ditangani," sambung Christian.
Ia menilai penelusuran aset harus berlanjut agar pengembalian tidak berhenti pada nominal tahap pertama. "Total-total semuanya yang dimasukkan ke LPSK itu kan Rp 8 triliun, tadi Rp 60 miliar, sedangkan ini kan hanya kurang lebih Rp 229 miliar," sambung Christian.
Advertisement
Korban KSP Indosurya Desak Pemulangan Buronan
Selain penelusuran aset, Christian menyoroti pentingnya memulangkan para buronan perkara Indosurya. Salah satu yang disorot adalah Suwito Ayub, yang disebut sebagai Direktur Keuangan dan masih berstatus buronan.
Christian mengaku mendengar informasi bahwa Suwito telah ditangkap di Amerika Serikat, namun belum bisa dipulangkan. Ia berharap koordinasi antarlembaga dapat mempercepat proses itu.
"Dan concern kita juga untuk yang buronan, Direktur Keuangan ini kan buronan, Suwito Ayub, nah itu mereka informasi yang saya dengar itu sudah ditangkap oleh di sana, Interpol di Amerika, tapi belum bisa dipulangkan. Jadi kami berharap dari BPA, Kejaksaan, Kepolisian, Bareskrim, Interpol, bisa membawa pulang nih tersangkanya," kata dia.
Bagi Christian, pemulangan buronan penting untuk membuka peluang ditemukannya aset lain yang bisa digunakan mengganti kerugian nasabah. "Jadi dari tersangka itu kami harapkan bisa didapatkan lagi aset-aset lain. Jadi supaya kerugian korban bisa maksimal lah dipulihkan, jangan hanya ini terus selesai begitu. Kami sungguh tidak berharap seperti itu sih. Kami percaya akan ada kelanjutannya lagi," ucap dia.
Advertisement
Awal Mengenal Indosurya Lewat Pemasaran
Christian mulai menjadi nasabah pada 2017. Selama kurang lebih tiga tahun, ia mengaku masih menerima bunga hingga koperasi tersebut gagal bayar pada 2020. "Kurang lebih sekitar 3 tahunan, tahun 2017. Untuk bunganya, dia (KSP Indosurya) selama saya 2017 itu, mereka tetap kasih, sampai akhirnya gagal bayar di 2020," terang dia.
Ia menjelaskan pola penawaran produk koperasi yang ia kenal melalui tenaga pemasaran, dengan pendekatan yang disebutnya mirip pemasaran produk perbankan. Menurutnya, banyak nasabah lansia menempatkan dana pensiun di koperasi tersebut. "Kalau taunya, kita kan kebanyakan nasabah Indonesia sudah pada lansia, sudah tua, kebanyakan itu uang pensiunannya mereka. Dan mereka umumnya menampung di bank dan biasanya ada kenal dekat, mungkin sama orang bank, perusahaan manajer kayak gitu. Jadi mereka yang menghubungi, biasanya menawarkan seperti marketing-marketing bank," tutup Christian.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378391/original/064731100_1792505304-IMG_5241.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377557/original/064007400_1792469253-243789.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378393/original/087814300_1792505402-WhatsApp_Image_2026-10-20_at_19.15.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378268/original/048579200_1792495109-KMP_Batu_Mandi_terbakar_di_perairan_Merak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378373/original/052323600_1792502373-IMG_5196.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378369/original/061253000_1792502133-IMG_5930.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378388/original/026226600_1792504672-Screenshot_20261020-143837_Gallery.jpg)