Di tengah tekanan global untuk mempercepat transisi energi bersih, Jepang mengambil langkah besar yang dapat mengubah lanskap pengelolaan emisi karbon dunia.
Negara Matahari Terbit ini hampir mencapai kesepakatan penting dengan Malaysia untuk menyimpan emisi karbon dioksida (CO2) bawah tanah di ladang gas lepas pantai yang telah habis.
Proyek penyimpanan karbon lintas negara ini menjadi kolaborasi internasional pertama Jepang dalam upaya menangkap dan menyimpan karbon (carbon capture and storage/CCS), dengan peluncuran awal direncanakan pada 2030.
Kerja sama ini melibatkan nama-nama besar seperti raksasa perdagangan Mitsui & Co., Kansai Electric Power, serta perusahaan minyak nasional Malaysia, Petronas.
Dilansir dari Nikkei Asia, tiga lokasi di Malaysia tengah dipersiapkan, dengan target menyimpan hingga 10 juta ton CO2 per tahun jumlah yang setara dengan emisi tahunan dari lebih dari dua juta mobil berbahan bakar bensin.
Advertisement
Solusi atas Emisi Domestik dan Perlambatan CCS Lokal
Jepang menargetkan netralitas karbon pada tahun 2050, namun sejumlah proyek CCS dalam negeri masih tertunda.
Meski 11 lokasi penyimpanan telah diidentifikasi dengan total kapasitas mencapai 16 miliar ton CO2, hanya satu proyek yang akan berjalan di lepas pantai Hokkaido pada 2025. Alhasil, Jepang kini memperluas jangkauan strateginya ke negara mitra seperti Malaysia untuk mempercepat realisasi pengurangan emisi secara signifikan.
Pemerintah Jepang bahkan memasukkan CCS sebagai elemen penting dalam strategi energi nasional, mengingat bahan bakar fosil masih diperkirakan menyumbang 30% hingga 40% bauran energi nasional pada 2040. Oleh karena itu, teknologi penangkapan karbon bukan hanya tambahan, tetapi kebutuhan mutlak.
Rencana Jepang dan Malaysia akan mengikuti protokol internasional seperti Protokol London, yang melarang pencemaran laut akibat pembuangan zat berbahaya. CO2 yang ditangkap dari pembangkit listrik dan pabrik di Jepang akan dicairkan, lalu diangkut menggunakan kapal khusus rendah emisi yang menggunakan hidrogen dan amonia sebagai bahan bakar.
Sementara itu, Jepang juga menjajaki kerja sama dengan negara-negara lain seperti Norwegia, Belanda, dan Denmark, yang telah lebih dulu menjalankan proyek CCS lintas batas.
Advertisement
Investasi Besar, Dampak Besar
Untuk mendanai upaya ambisius ini, pemerintah Jepang memperkirakan akan menggelontorkan 4 triliun yen (sekitar Rp470 triliun) selama 10 tahun ke depan. Pendanaan ini akan melibatkan obligasi transformasi hijau, sementara sektor swasta juga akan menanggung porsi investasi yang besar.
Kesepakatan resmi dengan Malaysia dijadwalkan akan ditandatangani pada musim panas 2025, menjadi penanda dimulainya era baru kerja sama karbon regional.
Langkah Jepang ini menegaskan bahwa dalam menghadapi krisis iklim, solusi tak lagi mengenal batas negara. Di saat dunia berpacu menuju emisi nol, kolaborasi Jepang-Malaysia ini bisa menjadi cetak biru untuk penyimpanan karbon lintas wilayah di masa depan.