Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan adanya Penurunan Wisatawan Domestik Bali yang signifikan sepanjang tahun 2025, khususnya selama periode Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Penurunan ini menjadi perhatian utama mengingat pentingnya sektor pariwisata bagi perekonomian Pulau Dewata. Koster menyoroti beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena ini, memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi.
Menurut Koster, salah satu penyebab utama Penurunan Wisatawan Domestik Bali adalah keterbatasan jumlah pesawat yang beroperasi melayani rute menuju Bali. Banyak maskapai mengalami kendala operasional karena sebagian armadanya harus menjalani perawatan rutin, sehingga mengurangi kapasitas kursi yang tersedia. Hal ini menyebabkan calon penumpang kesulitan mendapatkan tiket penerbangan ke Bali, terutama pada musim liburan puncak.
Selain masalah kapasitas penerbangan, Koster juga mengidentifikasi adanya pergeseran minat wisatawan domestik ke destinasi lain di Pulau Jawa. Pembangunan infrastruktur jalan tol yang memadai di Jawa telah mempermudah aksesibilitas darat, menjadikan destinasi di sana lebih menarik. Kondisi ini secara tidak langsung turut memengaruhi angka kunjungan wisatawan domestik ke Bali.
Advertisement
Advertisement
Gubernur Bali Wayan Koster secara tegas menyatakan bahwa kurangnya jumlah pesawat yang beroperasi menjadi faktor dominan dalam Penurunan Wisatawan Domestik Bali. Maskapai besar seperti Garuda Indonesia dan Citilink, yang merupakan tulang punggung penerbangan domestik ke Bali, mengalami pengurangan armada secara signifikan. Kondisi ini disebabkan oleh jadwal perawatan rutin yang jatuh tempo untuk sebagian besar pesawat mereka.
Data yang diperoleh Pemprov Bali menunjukkan bahwa Garuda Indonesia, yang biasanya mengoperasikan 11 pesawat untuk rute Bali, kini hanya memiliki sembilan pesawat yang aktif. Situasi serupa dialami oleh Citilink, di mana dari 11 pesawat yang biasa melayani, kini hanya enam yang beroperasi karena hampir 50 persen armadanya harus menjalani perawatan.
Keterbatasan armada ini mengakibatkan kursi penerbangan ke Bali selalu terisi penuh, bahkan jauh sebelum keberangkatan. Calon wisatawan domestik seringkali kesulitan mendapatkan tiket atau harus membayar harga yang lebih tinggi. Fenomena ini secara langsung menghambat niat perjalanan mereka ke Bali, berkontribusi pada Penurunan Wisatawan Domestik Bali yang tercatat.
Advertisement
Advertisement
Selain isu penerbangan, Koster juga mengamati adanya perubahan preferensi di kalangan wisatawan domestik yang mulai beralih ke destinasi di Pulau Jawa. Pergeseran ini merupakan faktor lain yang turut memengaruhi Penurunan Wisatawan Domestik Bali. Pembangunan infrastruktur jalan tol yang masif dan berkualitas di Jawa telah membuka aksesibilitas baru bagi para pelancong.
Kemudahan akses melalui jalur darat menjadikan perjalanan ke berbagai destinasi di Jawa lebih praktis dan efisien. Wisatawan kini memiliki lebih banyak pilihan untuk berlibur tanpa harus bergantung pada transportasi udara. Hal ini memberikan alternatif menarik bagi keluarga atau kelompok yang ingin melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi.
Pergeseran tren ini menunjukkan dinamika baru dalam pola wisata domestik di Indonesia. Meskipun Bali tetap menjadi primadona, destinasi lain dengan infrastruktur yang mendukung semakin menarik perhatian. Kondisi ini menuntut Bali untuk terus berinovasi dalam menarik wisatawan domestik di tengah persaingan yang semakin ketat.
Advertisement
Advertisement
Secara keseluruhan, jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Bali hingga 26 Desember 2025 baru mencapai 9,2 juta orang. Angka ini menunjukkan Penurunan Wisatawan Domestik Bali yang signifikan dibandingkan total kunjungan pada tahun 2024 yang mencapai 10,1 juta. Diperkirakan, total kunjungan hingga akhir tahun 2025 hanya akan mencapai sekitar 9,4 juta, menurun sekitar 600 hingga 700 ribu kunjungan.
Selama periode Posko Nataru yang dimulai sejak 15 Desember, pergerakan wisatawan domestik juga relatif rendah, tercatat 327.394 penumpang dengan 176.510 kedatangan. Data ini semakin memperkuat indikasi adanya Penurunan Wisatawan Domestik Bali yang perlu menjadi perhatian serius.
Meskipun demikian, Gubernur Koster menegaskan bahwa Bali tetap fokus pada target pasar internasional. Proyeksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga akhir tahun 2025 diharapkan mencapai 7,05 juta, meningkat dari 6,9 juta hingga 26 Desember. Peningkatan wisman ini diharapkan dapat menopang sektor perekonomian Bali, termasuk belanja wisatawan, tingkat hunian hotel, dan lama tinggal. Koster optimis bahwa Bali tetap ramai meskipun ada penurunan wisatawan domestik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews