Green Energy Kilang Plaju Hemat Rp 2,3 T Per Tahun & Kurangi Impor Minyak
Merdeka.com - PT Pertamina Refinery Unit (RU) III, Plaju Palembang, mengembangkan green energy dalam industri Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia. Energi baru terbarukan ini diyakini mampu menghemat kas perseroan hingga USD 160 juta atau Rp 2,3 triliun per tahun, dan mengurangi impor minyak sebesar 7,36 ribu barel per hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengapresiasi Green Refinery pertama di Indonesia yang telah dikembangkan Pertamina di Refinery Unit (RU) III, Plaju, Palembang. Hal ini dalam rangka menciptakan udara yang bersih dengan produksi BBM yang bersih.
"Pertamina telah concern terhadap produksi bahan bakar ramah lingkungan yang berasal renewable resources. Kita harus terus membangun dan menyiapkan green energy untuk generasi masa depan," ungkap Jonan saat kunjungan kerja ke Palembang, Kamis (17/1).
Menurut dia, green energy tersebut berupa mengolah minyak kelapa sawit (CPO) menjadi bahan bakar minyak (BBM). Prosesnya mencampurkan residu kelapa sawit atau bagian lain dari ke minyak atau bahan bakar.
"Dengan adanya BBM dari kelapa sawit ini setidaknya dapat digunakan untuk dalam negeri," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan, Kilang Plaju menjadi pilot project dalam pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan. Hal ini juga sekaligus untuk menjawab tantangan dunia agar bisnis migas mulai move on dari sumber energi fosil menuju green energy.
"Green energy adalah bisnis masa depan yang banyak dinantikan pasar dunia. Indonesia memiliki sumber green energy yang besar utamanya minyak sawit," kata dia.
Dia menilai, pengembangan green energy di Kilang Plaju, akan menghemat kas perseroan hingga US$ 160 juta atau Rp 2,3 triliun per tahun, sekaligus mengurangi impor minyak hingga 7,36 ribu barel per hari (bph). Upaya ini juga untuk menyukseskan program pemerintah untuk perluasaan penggunaan B20 serta mengurangi impor BBM sehingga cadangan devisa akan terjaga.
"Keberhasilan Kilang Plaju akan diteruskan ke kilang lainnya, seperti Kilang Cilacap, Balongan dan Dumai. Bahan bakar yang dihasilkan pun akan diperluas seperti Green Avtur dan Green Diesel yang lebih ramah lingkungan," terangnya.
Dalam jangka panjang, Pertamina telah melakukan kerja sama dengan ENI, yakni sebuah perusahaan minyak asal Italia yang menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia untuk mengembangkan kilang-kilang Pertamina menjadi green refinery. Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam menyediakan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri untuk menciptakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.
"Kami juga menjajaki kerja sama dengan PTPN untuk suplai kelapa sawit sebagai bahan baku green-fuel, agar bahan bakar yang dijual tetap terjangkau," kata dia.
Dia menambahkan, konversi Kilang Plaju menjadi Green Refinery pertama di Indonesia telah dilakukan melalui serangkaian kajian dan ujicoba. Pada Agustus-September 2018, dilakukan ujicoba dengan metode Advanced Cracking Evaluation (ACE) Test yang menunjukkan RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil) dengan skema co-processing. Kemudian dilanjutkan dengan penyiapan sarana prasarana dan ujicoba skeme co-processing dengan injeksi RBDPO secara bertahap 2,5 hingga 7,5 persen.
"Hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3," pungkasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya