Gawat, Pakar Sebut Kebijakan Tarif Trump Berpotensi Ancam Investasi ke RI dan Buat Ekspor Batu Bara Anjlok

Penerapan tarif impor tinggi oleh Presiden Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang tersebut mengakibatkan terganggunya perdagangan internasional.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
Gawat, Pakar Sebut Kebijakan Tarif Trump Berpotensi Ancam Investasi ke RI dan Buat Ekspor Batu Bara Anjlok
Gawat, Pakar Sebut Kebijakan Tarif Trump Berpotensi Ancam Investasi ke RI dan Buat Ekspor Batu Bara Anjlok (Merdeka.com)

Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Krisna Gupta mengungkap sejumlah dampak buruk kebijakan tarif impor yang dikenakan Presiden Donald Trump terhadap ekonomi Indonesia.

Krisna mengatakan, penerapan tarif impor tinggi oleh Presiden Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang tersebut mengakibatkan terganggunya perdagangan internasional. Akibatnya, terjadi perlambatan ekonomi global yang menggangu iklim investasi. Menurut Krisna dengan terganggunya iklim investasi global akan menyebabkan investor mengambil sikap cenderung menunda rencana investasi, termasuk ke Indonesia.

"Ketika mereka diharapkan mereka investasi, mereka mungkin nanti dulu deh, tunggu stabil nih tarif aslinya punya berapa.  Sehingga mereka ragu-ragu dalam membuat keputusan, akhirnya ekonominya agak-agak stuck. Itulah yang mungkin langsung terlihat gitu ya," ucapnya dalam acara diskusi virtual "Menyikapi Tarif Amerika: Apa Strategi Indonesia?" di Jakarta, Rabu (14/5).

Selain tren perlambatan investasi, kebijakan tarif impor oleh Presiden Trump juga dapat mengancam ekspor batu bara Indonesia ke China. China sendiri menjadi salah satu negara penting tujuan ekspor.

Krisna menjelaskan, kebijakan tarif impor tinggi yang ditetapkan Presiden Trump ke berpotensi untuk memukul berbagai sektor industri negeri Tirai Bambu. Akibatnya, permintaan batubara dari Indonesia akan ikut menurun.

"Jadi, kalau misalnya pabrik di China slow down karena gak bisa jualan ke US, maka kemungkinan pembelian batu bara mereka dari Indonesia juga akan berkurang, gitu. Nah, jadi hal-hal seperti ini juga akan berdampak, meskipun gak hanya langsung dari Indonesia ke China," tegasnya.

Mengantisipasi dampak pemburukan ekonomi tersebut. Krisna mendorong pemerintah untuk memaksimalkan proses negosiasi bersama Pemerintah AS yang masih berlangsung. Dia meminta Pemerintah Indonesia juga untuk aktif mencari peluang ekspor baru ke pasar Amerika di tengah proses negosiasi.

"Proses negosiasi ini harus dimanfaatkan secara baik," tandasnya.

Wall Street Melemah Terbatas, Investor Menanti Perundingan AS-China

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan pada akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones susut seiring investor menunggu pembicaraan perdagangan yang sangat dinanti-nantikan antara pejabat AS dan China pada akhir pekan ini.

Mengutip CNBC,  indeks Dow Jones turun 119,07 poin atau 0,29 persen dan ditutup ke posisi 41.249,38. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,07 persen dan ditutup ke posisi 5.659,91. Indeks Nasdaq sedikit berubah di posisi 17.928,92.

Sementara pasar Asia Pasifik bergerak beragam pada Jumat karena investor mencermati data ekspor-impor Tiongkok untuk April. Selain itu, investor juga fokus pada pembicaraan perdagangan yang akan datang antara Beijing dan Washington.

Ekspor China melonjak karena pengiriman ke negara-negara Asia Tenggara melonjak, mengimbangi penurunan tajam barang-barang keluar ke AS karena tarif yang sangat tinggi mulai berlaku.

Namun, saham China tidak mendapat dorongan dari data yang kuat karena kekhawatiran tarif membebani sentimen investor. CSI 300 Tiongkok Daratan turun 0,17 persen menjadi ditutup pada 3.846,16, sementara Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,4 persen sehingga ditutup pada 22.867,74.

Rekomendasi