Diserbu impor dan kenaikan TDL, industri benang terancam tutup
Merdeka.com - Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengeluhkan kondisi bisnis khususnya benang kapas selain benang jahit. Menurut Ade, impor benang kapas selain benang jahit saat ini sangat banyak dan mengancam industri dalam negeri.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan impor benang kapas selain benang jahit dari 2010 yang hanya 18.960 ton, kemudian tahun 2011 sebanyak 15.302 ton dan terus naik hingga 24.038 ton di tahun 2012.
"Impor memang banyak sehingga merusak pasar dalam negeri," ucap Ade ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Sabtu (18/1).
Topik pilihan: Kemendag | Ekonomi Indonesia
Ade mengatakan, jika kondisi ini terus dibiarkan maka industri benang akan banyak yang tutup. Kondisi seperti ini pernah terjadi tahun 2010 silam. Apalagi sambung Ade saat ini industri diberatkan dengan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang membuat industri semakin tidak bisa bersaing.
"Dulu barangkali 4 tahun lalu (ada yang tutup). Kita bagaimanapun kenaikan listrik berbahaya sekarang. Listrik kita 10 sen per Kwh, negara lain hanya 6 sen per Kwh. Dari perbedaan listrik biaya produksi kita beda 25 persen. Mana bisa bertahan," tegasnya.
Ade menyentil kebijakan energi pemerintah yang salah arah. Menurut Ade, Indonesia adalah lumbung energi dunia namun harga listrik sangat mahal dibandingkan negara yang bukan lumbung energi.
"Industri kita sangat butuh listrik tapi mahal padahal Indonesia lumbung energi yang saya dengar dari para petinggi tapi kok mahal. korea bukan lumbung energi kok murah," tutupnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya