Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan kesiapan lembaganya untuk mengekspor beras dan jagung pada tahun 2026. Keputusan ini diambil setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada untuk kedua komoditas pangan penting tersebut. Kesiapan operasional Bulog telah ditekankan, menunggu informasi resmi dari negara tujuan.
Dorongan untuk melakukan ekspor ini datang dari berbagai pihak, termasuk Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, yang akrab disapa Titiek Soeharto. Ia menyampaikan hal tersebut dalam Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 di Bekasi. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, juga turut mendorong Bulog untuk segera bersiap.
Rizal menjelaskan bahwa Bulog akan berkoordinasi secara ketat dengan Kementerian Perdagangan untuk mengidentifikasi peluang ekspor. Prioritas utama ditujukan bagi negara-negara tetangga dan wilayah yang sangat membutuhkan pasokan pangan. Ini termasuk daerah yang terdampak konflik atau krisis kemanusiaan.
Advertisement
Advertisement
Perum Bulog secara tegas menyatakan kesiapan operasionalnya untuk melaksanakan ekspor beras dan jagung. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, di Jakarta. Kesiapan ini menjadi respons atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pada kedua komoditas tersebut.
Dorongan kuat untuk Bulog segera mengekspor beras dan jagung datang dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, yang melihat potensi besar setelah swasembada tercapai. Ia menyuarakan hal ini saat Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 di Bekasi.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga turut memberikan dukungan penuh terhadap rencana ekspor ini. Amran mendorong Bulog untuk tidak menunda lagi persiapan ekspor setelah produksi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan. Dukungan ini disampaikan dalam acara pengumuman swasembada pangan oleh Presiden RI di Karawang.
Advertisement
Advertisement
Menanggapi dorongan tersebut, Direktur Utama Bulog, Rizal, mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi intensif. Koordinasi ini melibatkan Kementerian Perdagangan, sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam komunikasi dagang antarnegara. Proses ini penting untuk memastikan kelancaran dan legalitas ekspor.
Bulog memiliki strategi jelas dalam menentukan negara tujuan ekspor beras dan jagung. Prioritas utama diberikan kepada negara-negara tetangga yang memiliki kebutuhan mendesak. Selain itu, Bulog juga mempertimbangkan wilayah yang terdampak konflik atau krisis kemanusiaan sebagai target ekspor.
Langkah awal Bulog adalah menunggu informasi mengenai peluang dan kebutuhan dari negara-negara tujuan. Informasi ini akan diperoleh melalui koordinasi resmi antar pemerintah. Hal ini menunjukkan pendekatan yang terstruktur dan hati-hati dalam memasuki pasar ekspor komoditas pangan.
Advertisement
Advertisement
Meskipun fokus pada rencana ekspor, Bulog tetap memprioritaskan penguatan penyerapan dalam negeri. Target pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) ditetapkan sebesar 4 juta ton sepanjang tahun 2026. Ini menunjukkan komitmen Bulog untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Pada semester pertama tahun ini, Bulog menargetkan penyerapan beras minimal 3 juta ton. Target ini memanfaatkan momentum puncak panen nasional yang biasanya terjadi pada periode tersebut. Rizal optimistis target ini dapat tercapai, asalkan tidak ada gangguan cuaca ekstrem.
Sisa target penyerapan sekitar 1 juta ton direncanakan pada semester kedua. Dengan demikian, keseimbangan antara kebutuhan domestik dan rencana ekspor dapat tetap terjaga dengan baik. Bulog menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton, sementara mayoritas produksi tetap untuk kebutuhan dalam negeri.
Advertisement
Hingga awal Januari 2026, Bulog mengelola stok cadangan beras pemerintah sebesar 3,25 juta ton. Stok ini merupakan peralihan dari sisa stok tahun sebelumnya. Jumlah ini memberikan fondasi kuat untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung rencana ekspor.
Sumber: AntaraNews