5 Barang asal Indonesia tak disangka bisa laku keras di dunia

Jumat, 10 Maret 2017 07:00 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
5 Barang asal Indonesia tak disangka bisa laku keras di dunia Jengkol. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Produk Ekspor Indonesia banyak menjadi primadona negara lain. Bicara mengenai ekspor, biasanya terpaku pada kontribusi sektor minyak dan gas (migas). Dari sektor non-migas, masyarakat juga membayangkan sumbangan devisa ini datang dari sawit atau produk manufaktur seperti alat elektronik.

Bila menilik data komoditas ekspor badan Pusat Statistik (BPS), sebetulnya produk Indonesia yang melanglang buana ke luar negeri amat beragam dan mencapai ribuan jenis. Siapa sangka, ada komoditas-komoditas unik dan tidak terduga ikut nyelonong dari ekspor.

Meski kontribusi ekonominya tidak seberapa besar dibanding komoditas populer, namun harus diakui ada pengusaha dalam negeri yang jeli menangkap peluang usaha dengan mengekspor benda-benda unik tersebut.

Berikut merdeka.com akan merangkum sejumlah barang ekspor yang tak disangka bisa laku keras di dunia. Selain itu juga menguntungkan tentunya.

1 dari 5 halaman

Jengkol

Jengkol. ©2013 Merdeka.com

Siapa sangka, jengkol ternyata bisa diolah menjadi rendang, bahkan proses pembuatan dan pengolahannya pun menggunakan cara yang lebih modern serta dikemas dalam bentuk makanan instan siap saji.

Adalah kakak beradik, Kingkin, Nova Aditya dan Bimbi berhasil bereksperimen dengan jengkol dan bahkan kini hasil olahan mereka bisa dinikmati masyarakat luar negeri melalui usaha mereka yang bernama Mangano.

Kini, selain di dalam negeri produk buatan mereka sudah menjangkau mancanegara seperti Jepang, Korea, Australia san Jerman. "Yang beli biasanya buat oleh-oleh," kata Kingkin.

Melalui usahanya tersebut, kini Kingkin dan keluarganya bisa mengantongi untung minimal Rp. 15 juta per bulannya. Selain rendang jengkol, mereka juga menjual semur daging, opor ayam, kari ayam dan rendang sapi.

2 dari 5 halaman

Belut

Ilustrasi belut. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Krasowit

Untuk pertama kali, salah satu usaha kecil menengah (UKM) di Palembang mengekspor belut hidup ke China. Tingginya permintaan dari negeri tirai bambu itu diyakini menjadi usaha baru warga di Sumsel.

Direktur UD Bandar Mina Palembang, Putu Sumardika mengungkapkan, potensi belut di Sumsel selama ini cukup menjanjikan. Sayangnya, belum diberdayakan dan hanya sebatas konsumsi lokal.

"Potensi besar tapi tidak dimanfaatkan, sayang sekali. Ini ada permintaan dari China sehingga kita ambil bagian," ungkap Putu usai launching ekspor perdana belut ke China di Palembang.

Dengan adanya ekspor langsung, sambung dia, diharapkan berdampak pada minat petani untuk mencari belut, terutama di persawahan. Satu kilogram belut hidup usia di atas tiga bulan, dihargai Rp 30.000 sampai Rp 35.000.

3 dari 5 halaman

Mahkota raja

rev1Ilustrasi Kuluk Manten. dheritages.com

Kerajinan ekonomi kreatif berupa mahkota raja atau 'kuluk manten' yang diproduksi pengrajin Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mampu menembus konsumen mancanegara.

Seorang perajin 'kuluk manten', Heri Sanjoyo (55) mengatakan, usaha kerajinan yang ditekuni sejak 1974 kini mampu menembus konsumen luar negeri antara lain Thailand, Suriname, dan Belanda, Dia mengatakan, 'kuluk manten' yang berbentuk bundar tersebut kombinasi antara bahan baku kertas karton dengan kain katun serta aksesoris lainnya mulai diminati konsumen luar negeri.

Menurut dia, omzet kotor 'kuluk manten' atau mahkota raja tersebut antara Rp 5 juta hingga Rp 6,5 juta per bulan.

4 dari 5 halaman

Air laut

rev1Ilustrasi air laut asin. ©2016 Merdeka.com

Anda tidak salah baca. Inilah salah satu komoditas ekspor yang sulit dibayangkan bisa laku, apalagi karena negara kita dikaruniai 70 persen wilayah berupa laut.

Banyak negara yang tidak seberuntung Indonesia dengan cadangan air asin besar. Pengusaha pun memanfaatkan peluang itu buat memasok kebutuhan bahan baku obat alternatif sampai penggemar ikan hias yang ingin memelihara hewan laut di aquarium.

Setiap bulan, permintaan air laut selalu ada, meski volumenya naik turun. Tapi jumlahnya tidak main-main, sebab nilai ekspor komoditas ini sepanjang 2012 mencapai USD 763 ribu alias Rp 73 miliar.

5 dari 5 halaman

Rambut manusia

rev1peragaan busana batik. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Jangan dikira rambut kita yang dipotong di salon akan disapu lalu dibuang begitu saja. Bila kondisinya masih bagus, rupanya tangan-tangan kreatif akan mengemasnya sebagai bahan wig untuk industri fesyen di luar negeri.

Wig alias rambut palsu kualitas terbaik memang disarankan dibuat dengan bahan baku rambut manusia. Karena itu negara-negara mode seperti Italia dan Prancis kerap meminta rambut bekas potong, dari negara-negara Asia. Alasannya karena biasanya berwarna hitam.

Dari data BPS permintaan rambut manusia tahun ini memang naik turun. Ada beberapa bulan sama sekali tidak ada ekspor. Namun nilainya lumayan, total dari Januari sampai September, ekspor rambut menghasilkan USD 350 ribu atau setara Rp 3,3 miliar.

  [bim]

Baca juga:
Garap pasar ekspor, belut Palembang 'terbang' ke China
Produksi belum memadai, Indonesia harus impor petrokimia
Pemerintah incar pasar ekspor non tradisional anggota IORA
Menkeu Sri Mulyani kesal banyak importir daging tak bayar pajak
Arcandra: Impor LPG dari Iran untuk penuhi kebutuhan dalam negeri
Ekonomi Indonesia diprediksi meroket di 2017, ini penyebabnya
Ini buah tangan Presiden Jokowi dari Australia untuk sektor ekonomi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini