Sedikitnya 13 warga sipil dilaporkan tewas dan 57 lainnya mengalami luka-luka setelah amunisi meledak di sebuah pangkalan militer di Bujumbura, ibu kota ekonomi Burundi.
Menurut keterangan pihak militer, ledakan tersebut dipicu oleh korsleting listrik yang terjadi di gudang amunisi utama.
“Rumah-rumah rusak di berbagai lingkungan serta kendaraan pribadi. Peralatan dan fasilitas militer terbakar dan hancur,” kata juru bicara militer Jenderal Gaspard Baratuza dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu dikutip dari Aljazeera, Kamis (2/4/2026).
Meski demikian, pihak militer belum menyebutkan adanya korban jiwa dari kalangan tentara. Namun, disebutkan bahwa tiga personel militer termasuk di antara para korban luka.
Advertisement
Ledakan terjadi pada Selasa malam di gudang amunisi utama Angkatan Pertahanan Nasional Burundi (FDNB) yang berada di Musaga, kawasan pinggiran selatan Bujumbura.
Lokasi gudang senjata tersebut berada di area yang padat penduduk dan berdekatan dengan Institut Tinggi untuk Kader Militer (ISCAM), yakni pusat pendidikan dan pelatihan calon perwira militer.
Kedekatan lokasi dengan permukiman warga diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya jumlah korban sipil serta kerusakan pada rumah dan kendaraan di sekitar area ledakan.
Advertisement
Seorang perwira polisi senior yang berada di lokasi kejadian mengatakan bahwa tim pemadam kebakaran langsung bergerak pada Selasa malam. Namun, proses pemadaman disebut mengalami kendala serius akibat kekurangan pasokan air.
Ia menyebut sejumlah properti warga hancur akibat "kobaran api besar" dan menambahkan bahwa "kamp utama telah luluh lantak menjadi abu".
Menurut keterangan petugas, hingga Rabu sore api dan kepulan asap masih terlihat dari lokasi ledakan.
Advertisement
Insiden ini terjadi di tengah kondisi Burundi yang masih menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan.
Menurut data Bank Dunia, Burundi menempati peringkat sebagai negara termiskin di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2023.
Negara tersebut juga telah lama menghadapi berbagai persoalan ekonomi, termasuk krisis bahan bakar yang parah.
Advertisement
Presiden Burundi, Évariste Ndayishimiye, melalui pesan di media sosial menyampaikan "simpati" kepada "semua korban kebakaran".
Sementara itu, otoritas setempat mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya amunisi yang belum meledak di sekitar lokasi.
Pemerintah juga meminta masyarakat segera melaporkan temuan amunisi aktif melalui saluran telepon yang telah disediakan, disertai peringatan tegas:
“Berhati-hatilah dan JANGAN DISENTUH”.