Musim hujan makin dekat, dan payung kembali jadi barang yang hampir selalu ikut ke mana-mana. Sayangnya, banyak orang hanya mengibaskan air di bagian luar, lalu langsung melipat payung. Padahal, cara menjaga bagian dalam payung tetap bersih setelah terkena hujan menentukan apakah payung tetap segar atau malah bau apek dan berbintik jamur.
Melansir dari buku WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Dampness and Mould (World Health Organization Regional Office for Europe, 2009), kelembapan berlebih pada hampir semua bahan di dalam ruangan bisa memicu tumbuhnya jamur dan bakteri.
Bagian dalam payung lebih rawan karena air mudah terperangkap di balik kain, di lipatan, dan di sela rangka. Di Indonesia, risikonya makin besar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Payung akan menjadi lembap jika tidak dikeringkan dengan benar. Berikut adalah cara menjaga bagian dalam payung tetap bersih setelah terkena hujan dirangkum Liputan6.com Kamis (29/10/2026).
Advertisement
Kenapa Bagian Dalam Payung Lebih Gampang Berjamur?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390761/original/062152000_1793858458-2.jpg)
Saat payung dipakai, air hujan memang mengalir turun di bagian luar. Namun, percikan dan uap air juga masuk ke sisi dalam kain, ke sambungan rangka, dan ke ujung-ujung besi. Begitu payung dilipat, area ini tertutup rapat dan tidak kena angin. Air yang tersisa pun bertahan lebih lama di sana.
Melansir dari jurnal Sustainable Microbiology Volume 2 Nomor 1 (2025) berjudul "Assessing Mold Growth Severity on Various Textiles: Comparative Analysis of Inoculum Densities and Fungal Strains", jamur lebih mudah tumbuh saat kelembapan udara berada di kisaran 65 sampai 100 persen, suhu hangat, dan udara tidak mengalir. Suasana hangat dan lembap seperti ini akrab bagi banyak daerah di Indonesia saat musim hujan. Penelitian tersebut memang menguji kain pada simulasi pengiriman barang, bukan payung secara langsung. Meski begitu, pelajarannya sama: lembap ditambah udara macet adalah resep jamur.
Kotoran juga ikut berperan. Ringkasan panduan WHO tahun 2009 yang dimuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut debu dan kotoran yang biasa ada di ruangan sudah cukup menjadi makanan bagi jamur. Jurnal di atas juga mencatat bahwa kain sintetis seperti poliester lebih tahan jamur dibanding katun, tetapi tetap bisa ditumbuhi jika kotor. Karena banyak payung memakai kain sintetis, jangan merasa aman hanya karena kainnya licin dan anti air. Bagian dalam yang kotor tetap perlu dibersihkan.
Lakukan "Tes Tiga Titik" Sebelum Payung Dilipat
Permukaan kain sering terasa kering lebih dulu, padahal bagian lain masih basah. Supaya tidak tertipu, biasakan memeriksa tiga titik yang paling sering menyimpan air:
- Ujung kain di dekat rangka. Di sini air biasa menetes lalu berkumpul.
- Lipatan kain di sisi dalam. Lipatan menahan air dan menutup udara.
- Sambungan rangka dan pegas di dekat gagang. Bagian logam ini lama kering dan bisa berkarat.
Cara memeriksanya mudah. Tempelkan tisu kering atau punggung tangan yang bersih dan kering ke tiga titik tersebut. Kalau terasa dingin atau tisu jadi lembap, berarti payung belum siap dilipat. Cium juga aromanya. Bau lembap ringan adalah tanda awal bahwa air masih terperangkap.
Kebiasaan sederhana ini hanya butuh sekitar satu menit. Tetapi hasilnya terasa, karena kamu tahu pasti kapan payung benar-benar kering, bukan sekadar terlihat kering.
Advertisement
Buka Payung Lebar dan Arahkan Bagian Dalamnya ke Arah Angin
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390762/original/089427200_1793858458-3.jpg)
Setelah masuk rumah atau kantor, buka payung selebar mungkin. Produsen payung ShedRain asal Oregon, Amerika Serikat, misalnya, menyarankan payung dibiarkan terbuka sampai kering sebelum disimpan, dan tidak ditutup atau dimasukkan ke sarung saat masih basah. Dengan payung terbuka, udara bisa menjangkau sisi dalam kain dan sela-sela rangka.
Pilih tempat yang anginnya lancar, seperti dekat jendela, pintu yang terbuka, teras, atau balkon. Rumah tanpa halaman atau kamar kos juga bisa memakai kipas angin. Arahkan hembusan kipas ke bagian dalam payung dengan kecepatan sedang, lalu ubah posisi payung sesekali agar semua sisi kena angin.
Hindari menaruh payung basah di lemari, di balik tirai tebal, atau di pojok ruangan yang pengap. Alasannya sederhana: tempat seperti itu membuat air menguap lebih lambat. Siapkan juga alas atau baki kecil supaya lantai tidak licin. Untuk payung otomatis, baca dulu petunjuk pemakaian sebelum membiarkannya terbuka lama, karena tiap model punya mekanisme berbeda.
Advertisement
Lap Bagian Dalam Kanopi, Rangka, dan Gagang dengan Kain Kering
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390763/original/022126700_1793858459-4.jpg)
Mengeringkan dengan angin saja kadang kurang cepat, terutama saat cuaca mendung. Karena itu, bantu dengan kain lap. Pilih kain mikrofiber atau handuk kecil yang bersih dan benar-benar kering. Jangan pakai lap yang sudah lembap atau berbau, karena justru bisa memindahkan kotoran ke payung.
Langkahnya bisa kamu ikuti seperti ini:
- Tekan-tekan permukaan dalam kain dengan lap, jangan digosok keras supaya lapisan anti airnya tidak rusak.
- Usap batang payung, rusuk, sambungan, dan gagang sampai tidak ada tetesan tersisa.
- Masukkan sudut lap ke lipatan dan ujung kain yang sempit, dengan gerakan pelan agar jahitan tidak tertarik.
- Gantung lap yang sudah dipakai di tempat berangin, lalu cuci jika sudah lembap.
Bagian logam perlu perhatian ekstra. Melansir dari panduan perawatan payung luar ruang Shadowspec, bagian logam sebaiknya langsung dikeringkan setelah dibersihkan agar tidak berkarat. Payung harian memang lebih kecil, tetapi prinsipnya sama: rangka yang cepat kering lebih awet.
Advertisement
Jangan Simpan di Sarung, Tas Kresek, atau Jok Motor Saat Masih Basah
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390764/original/050915200_1793858459-5.jpg)
Di Indonesia, payung sering berakhir di tempat-tempat tertutup. Ada yang dimasukkan ke sarung, ke kantong plastik, ke tas kerja, ke bagasi mobil, atau ke bawah jok motor. Semuanya terasa praktis saat sedang terburu-buru. Namun, tempat tertutup membuat air tidak bisa menguap, sehingga bagian dalam payung tetap lembap berjam-jam.
Kebiasaan serupa juga sering terjadi pada jas hujan. Sejumlah pemilik motor mengeluh jas hujan jadi berjamur dan bau karena dilipat basah lalu disimpan di bagasi. Payung punya risiko yang sama.
Berikut perbandingan kebiasaan yang perlu diganti:
| Kebiasaan yang Kurang Tepat | Kebiasaan yang Lebih Baik |
|---|---|
| Payung basah langsung masuk sarung | Biarkan terbuka sampai semua titik kering |
| Dimasukkan ke kantong plastik | Pakai kantong khusus payung hanya untuk meniriskan sebentar, lalu keluarkan |
| Ditaruh di bawah jok motor | Bawa masuk rumah dan buka di tempat berangin |
| Ditumpuk dengan payung lain | Beri jarak agar udara bisa lewat |
| Disimpan di tas kerja seharian | Keluarkan begitu sampai kantor, lalu buka |
Kalau terpaksa membawa payung basah di tas, jadikan itu keadaan sementara. Begitu sampai tujuan, langsung keluarkan dan buka. Cara ini sejalan dengan prinsip yang dipakai Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) dalam materi Mold Web Course - Chapter 9: Prevention. EPA menyarankan benda yang basah dikeringkan dalam 24 sampai 48 jam supaya jamur tidak tumbuh. Aturan itu ditulis untuk bangunan dan perabot, tetapi prinsipnya masuk akal untuk payung: makin cepat kering, makin kecil peluang jamur. Untuk payung, patokan praktisnya jauh lebih singkat, yaitu keringkan di hari yang sama.
Advertisement
Cuci Ringan Seminggu Sekali Selama Musim Hujan
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390765/original/082179400_1793858459-6.jpg)
Meski sudah rajin mengeringkan, bagian dalam payung tetap perlu dibersihkan secara berkala. Debu jalanan, percikan lumpur, dan sisa asap kendaraan menempel di sisi dalam kain. Kotoran inilah yang bisa jadi makanan jamur.
Untuk perawatan rutin, kamu tidak perlu alat khusus. Berikut cara yang umum disarankan:
- Siapkan air hangat dan sedikit sabun cuci piring atau sabun lembut lainnya.
- Buka payung, lalu usap sisi dalam kain dengan kain lembut atau sikat berbulu halus.
- Bersihkan batang, rusuk, dan sambungan dengan kain lembap, lalu bilas dengan kain yang dibasahi air bersih.
- Keringkan dengan lap, lalu biarkan terbuka sampai kering sempurna.
Panduan perawatan payung dari produsen asal Prancis, Parapluie de Cherbourg, juga menyarankan pembersihan dengan air hangat dan sabun lembut, lalu dibilas dan dikeringkan penuh. Sebelum memakai sabun atau cairan apa pun, uji dulu di sudut kecil yang tidak terlihat. Cek juga label payung. Jangan memasukkan payung ke mesin cuci atau pengering pakaian, kecuali petunjuknya membolehkan.
Soal jadwal, seminggu sekali selama musim hujan bisa dijadikan patokan praktis. Kalau payung hampir tiap hari dipakai dan sering kena lumpur, bersihkan lebih sering. Di luar musim hujan, cukup lakukan setiap beberapa minggu atau saat terlihat kotor.
Advertisement
Atasi Bercak Jamur dan Bau Apek Sejak Dini
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390766/original/020181400_1793858460-8.jpg)
Kadang bercak sudah telanjur muncul. Ciri jamur biasanya berupa bintik atau lapisan halus berwarna putih, abu-abu, atau kehijauan, sering disertai bau apek. Jangan menunda, karena makin lama dibiarkan, makin sulit dibersihkan.
Satu cara yang sering dianjurkan penyedia jasa kebersihan Maids adalah memakai sikat nilon dan cuka putih yang dicampur air. Mulailah dengan campuran yang encer, lalu uji dulu di sudut kecil untuk melihat apakah warna kain luntur. Pakai sarung tangan dan masker agar spora tidak terhirup, lalu sikat bercak dengan lembut, bilas, dan keringkan di tempat berangin.
Ada beberapa hal yang perlu diingat:
- Bersihkan bercak saat kain masih kering atau hanya lembap, bukan basah kuyup, agar mudah disikat.
- Jangan menutupi bau dengan parfum atau pewangi semprot. Bau hilang sementara, tetapi jamurnya tetap ada.
- Hindari pemutih kecuali petunjuk perawatan payung membolehkannya, karena bisa merusak warna dan lapisan kain.
- Setelah bersih, keringkan sampai benar-benar kering.
Satu pesan penting datang dari EPA. Melansir dari materi What Are the Ten Things I Need to Know About Mold, jika jamur dibersihkan tetapi sumber airnya tidak diatasi, jamur kemungkinan besar akan kembali. Untuk payung, sumber airnya adalah kebiasaan menyimpan dalam keadaan lembap. Jadi, perbaiki kebiasaan mengeringkan, bukan hanya membersihkan bercaknya.
Sebagian produsen, seperti Parapluiede Cherbourg, juga menyebut penggunaan semprotan anti jamur yang cocok untuk jenis kain payung. Jika ingin mencoba, pilih produk yang jelas aman untuk kain dan baca petunjuknya dengan teliti.
Simpan di Tempat Kering dengan Udara Lancar
Setelah payung kering, simpan dengan benar. Lipat mengikuti lipatan aslinya supaya kain tidak tertekan. Taruh di gantungan dekat pintu masuk yang berventilasi baik, atau di rak terbuka. Hindari area yang sering lembap, seperti dekat kamar mandi atau tempat menjemur pakaian di dalam ruangan.
Jurnal Sustainable Microbiology tadi juga mencatat bahwa menjaga kelembapan di bawah 60 persen dan memastikan udara mengalir dapat menurunkan peluang jamur tumbuh. Angka itu merujuk pada penelitian pelestarian benda koleksi yang dikutip jurnal tersebut, bukan aturan khusus payung. Meski begitu, rumah dengan kelembapan tinggi bisa memakai kipas, membuka ventilasi, atau menyalakan alat penyerap kelembapan untuk membantu ruangan lebih kering.
Selain itu, jangan lupa melihat kondisi cuaca. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia datang lebih lambat dari biasanya karena pengaruh El Nino, tetapi hujan akan datang bertahap dan memuncak pada Desember hingga Februari. Karena itu, bangun kebiasaan merawat payung sejak sekarang, sebelum hujan makin sering turun.
Kapan Payung Harus Diganti dan Apa Risiko Jamur bagi Kesehatan?
Perawatan yang baik memperpanjang umur payung, tetapi tidak semua payung bisa diselamatkan. Sebaiknya pertimbangkan mengganti payung jika bercak jamur sudah menyebar luas, bau apek tidak hilang setelah dibersihkan dan dikeringkan, kain terasa rapuh, atau rangka berkarat parah sampai sulit dibuka dan ditutup. Payung seperti ini bukan hanya kurang nyaman, tetapi juga lebih sulit dijaga tetap bersih.
Soal kesehatan, jangan anggap jamur hanya masalah bau. Dalam abstrak buku WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Dampness and Mould (2009) disebutkan bahwa efek paling penting dari paparan jamur dan mikroba di ruang lembap adalah meningkatnya keluhan pernapasan, alergi, dan asma, serta gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Karena itu, orang dengan alergi atau asma sebaiknya lebih berhati-hati saat membersihkan payung berjamur. Pakai masker dan sarung tangan, lakukan di tempat berangin, dan minta bantuan orang lain jika perlu.
Perlu diingat juga bahwa jamur tidak bisa dihilangkan seratus persen dari lingkungan sekitar kita. Menurut EPA, kuncinya bukan memusnahkan semua spora, melainkan mengendalikan kelembapan. Jadi, tidak perlu panik. Cukup biasakan mengeringkan payung dengan benar dan membersihkannya secara rutin.
Informasi ini bersifat umum dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Jika kamu mengalami batuk, sesak napas, atau alergi yang makin parah setelah terpapar jamur, segera periksakan diri ke dokter.
Pertanyaan Seputar Merawat Bagian Dalam Payung
1. Berapa lama payung basah boleh dibiarkan lembap sebelum berjamur?
Tidak ada angka pasti untuk payung, karena tergantung bahan, kotoran, dan kelembapan ruangan. Sebagai pegangan, EPA menyarankan benda yang basah dikeringkan dalam 24 sampai 48 jam agar jamur tidak tumbuh. Untuk payung yang ukurannya kecil dan mudah dikeringkan, sebaiknya selesaikan di hari yang sama. Makin cepat kering, makin kecil risikonya.
2. Bolehkah payung dijemur langsung di bawah terik matahari?
Panduan perawatan yang beredar belum seragam. Sebagian menyarankan payung dikeringkan di tempat yang terkena matahari, sementara yang lain meminta payung dijauhkan dari sinar matahari langsung. Jalan tengahnya, utamakan angin dan udara yang mengalir. Jemur sebentar jika perlu, jangan berjam-jam, karena panas berlebih bisa memengaruhi warna dan lapisan pelindung kain pada sebagian payung. Cek juga petunjuk dari produsen payungmu.
3. Bagaimana cara menghilangkan bau apek di bagian dalam payung?
Bersihkan dulu bagian dalam kain dengan air hangat dan sabun lembut, lalu bilas dan keringkan sampai benar-benar kering di tempat berangin. Jika bau masih ada dan terlihat bercak, coba campuran cuka putih yang encer setelah diuji di sudut kecil kain. Jangan hanya menyemprotkan pewangi, karena jamur dan penyebab baunya tetap ada.
4. Apakah payung lipat yang dibawa di tas lebih berisiko berjamur?
Ya, risikonya bisa lebih besar. Payung lipat biasanya punya lebih banyak lipatan dan sering disimpan di tempat tertutup seperti tas, sarung, atau kompartemen motor. Air mudah terperangkap di sana. Begitu sampai tujuan, keluarkan payung, buka lebar, lap bagian dalamnya, dan biarkan kering sebelum dilipat lagi.
5. Apakah jamur di payung berbahaya bagi kesehatan?
Jamur di lingkungan lembap dikaitkan dengan keluhan pernapasan, alergi, dan asma, menurut WHO. Jumlah jamur di satu payung biasanya kecil, tetapi tetap sebaiknya dibersihkan, terutama jika ada anggota keluarga yang sensitif atau punya asma. Pakai masker dan sarung tangan saat membersihkan. Informasi ini bukan pengganti saran dokter, jadi segera periksa jika muncul keluhan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390760/original/031879600_1793858458-HL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390806/original/043476200_1793861300-Gemini_Generated_Image_45dutr45dutr45du.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9303346/original/084106500_1784627539-27ee568e-0a61-4a2e-91e4-d42615018bb1__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7760491/original/074588500_1780569908-12093021533919387138.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390519/original/037778400_1793847569-Mengatur_dan_Mengalihkan_Aliran_Air_Hujan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390561/original/075306000_1793848713-a726f7de-329b-4a2e-99a8-c87e88f13272.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9390471/original/031564400_1793842731-24b65af2-82d1-484d-b082-11dd74d30577.jpg)