Bulan Rabiul Awal, yang juga dikenal sebagai Bulan Mulud, merupakan waktu yang sangat spesial bagi umat Islam. Selain menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, bulan ini juga dipenuhi dengan kesempatan untuk meningkatkan amalan sunnah, termasuk melaksanakan puasa. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, puasa sunnah di bulan Mulud dianjurkan sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW.
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
Artinya: Nabi Saw ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab,” Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu."
Umat Islam kemudian menjadikan puasa di bulan ini sebagai salah satu cara untuk menunjukkan cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Puasa tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa sebagai amalan sunnah. Bagi mereka yang melaksanakannya, Allah akan memberikan rahmat dan karunia.
Lantas bagaimana tata cara melaksanakannya? Simak informasinya berikut, dirangkum Merdeka.com untuk Anda, Rabu (3/9).
Advertisement
1. Mengapa Puasa Mulud Dikaitkan dengan Ayyamul Bidh? Ini Alasannya
Puasa Mulud merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah, yang dikenal sebagai Ayyamul Bidh atau hari-hari terang saat bulan purnama menerangi malam. Rasulullah SAW secara rutin melaksanakan puasa pada tanggal-tanggal tersebut, baik ketika berada di rumah maupun saat dalam perjalanan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya puasa tersebut dalam tradisi umat Islam.
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abudzar ra, puasa selama tiga hari Ayyamul Bidh setara dengan puasa satu tahun, karena setiap hari puasa dilipatgandakan menjadi sepuluh hari (HR. Ibnu Majah). Oleh karena itu, Puasa Mulud bukan hanya sekadar ungkapan cinta kepada Nabi, tetapi juga merupakan investasi untuk kehidupan akhirat yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan. Hal ini sejalan dengan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, yang dikutip dari NU Online, yaitu:
"Rasulullah saw sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah (ayyamul bidh) baik di rumah maupun dalam bepergian.” (HR an-Nasa’i dengan sanad hasan).
Advertisement
2. Apa Bacaan Niat Puasa Mulud?
Puasa Mulud dapat bertepatan dengan Ayyamul Bidh, hari Senin-Kamis, atau niat puasa sunnah di bulan Rabiul Awal. Oleh karena itu, niat puasa bisa disesuaikan dengan jenis puasa yang akan dilaksanakan. Niat puasa Ayyamul Bidh:
- نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى“
- Nawaitu shauma ayymil bdl lillahi ta'ala.
- Saya niat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Ta'ala."
Niat puasa Senin:
- نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللّٰهِ تَعَالَى
- Nawaitu shauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'ala,
- Saya niat berpuasa hari Senin sunnah karena Allah Ta'ala."
Niat puasa Kamis:
- نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الْخَمِيسِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى“
- Nawaitu shauma yaumil khamisi sunnatan lillahi ta'ala.
- Saya niat berpuasa hari Kamis sunnah karena Allah Ta'ala."
Niat sebaiknya diucapkan pada malam hari sebelum Subuh. Namun, jika seseorang lupa, masih diperbolehkan untuk berniat hingga sebelum waktu zawal, asalkan belum makan atau minum.
Advertisement
Tata Cara Puasa Mulud
Meskipun puasa Mulud merupakan amalan sunnah, pelaksanaannya tetap harus mengikuti syariat agar ibadah ini sah dan diterima oleh Allah SWT. Tata cara puasa ini mirip dengan puasa sunnah lainnya, seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh, dan dimulai dengan niat yang sah hingga berbuka dengan mengikuti sunnah Nabi. Berikut adalah tata cara puasa Mulud secara terperinci:
1. Membaca Niat
Niat dapat dilafalkan pada malam hari hingga sebelum waktu zawal (matahari condong ke barat), dengan syarat belum makan atau minum. Bacaan niat disesuaikan dengan jenis puasa yang dilakukan, apakah Ayyamul Bidh, Senin-Kamis, atau niat umum puasa sunnah di bulan Rabiul Awal.
2. Sahur
Disunnahkan untuk bersahur menjelang waktu Subuh. Dalam sebuah hadits Nabi, sahur disebut sebagai pembeda antara puasa umat Islam dan umat sebelumnya, serta mengandung berkah (HR. Bukhari-Muslim).
3. Menahan dari Hal yang Membatalkan Puasa
Mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, kita harus menahan diri dari:
- Makan dan minum
- Hubungan suami istri
- Perbuatan maksiat, termasuk ghibah, dusta, atau marah
- Memperbanyak ibadah seperti shalawat, zikir, tilawah, dan sedekah.
4. Berbuka dengan Cara Nabi
Segera berbuka saat waktu Maghrib tiba, tanpa menunda-nunda. Disunnahkan untuk berbuka dengan kurma atau air putih, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
5. Berdoa Saat Berbuka
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ“
"Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Advertisement
Mengapa Membaca Sholawat di Bulan Maulid Bisa Mengubah Hidup?
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Maulid adalah memperbanyak membaca shalawat. Dalam kitab Kanzun an-Najah wa al-Surur, dijelaskan bahwa memperbanyak shalawat di bulan Rabiul Awal merupakan ungkapan cinta dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah.
Membaca shalawat tidak hanya dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tetapi juga menjadi salah satu sebab turunnya rahmat, ampunan, dan ketenangan jiwa. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku." (HR. Tirmidzi)
Dengan secara rutin membaca Shalawat Nariyah, Shalawat Ibrahimiyah, atau Shalawat Ummi, kita dapat membangun koneksi spiritual dengan Nabi Muhammad SAW yang nilainya tidak dapat diukur dengan harta dunia.
Advertisement
Amalan Lain yang Mendatangkan Pahala Besar Selain Sholawat
Bulan Maulid bukan hanya sekadar tentang puasa dan sholawat. Menurut Kementerian Agama dan para ulama NU, terdapat berbagai amalan lain yang sangat dianjurkan, antara lain:
1. Mengadakan Maulid Nabi
Membaca kisah kelahiran Nabi (maulid) dapat membuat rumah atau tempat tersebut dikelilingi oleh malaikat, serta mendapatkan rahmat dan doa ampunan, seperti yang dinyatakan oleh Imam Suyuthi.
2. Bersedekah dan Berbuat Baik
Memberikan makanan, membantu fakir miskin, dan menyantuni orang tua merupakan tindakan nyata yang mencerminkan akhlak Nabi.
3. Merenungi Sirah Nabawiyah
Mengkaji sejarah hidup Rasulullah dapat memperdalam rasa cinta dan menumbuhkan semangat untuk meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan-amalan ini akan semakin bermakna jika dilakukan dengan niat yang tulus, hati yang ikhlas, dan komitmen untuk memperbaiki diri.