Kisah tragis dialami oleh Daniel Edri, seorang tentara cadangan Israel yang tewas usai nekat membakar diri akibat tekanan mental.
Sumber media Ibrani melaporkan bahwa Daniel Edri bunuh diri setelah kembali dari Jalur Gaza, karena trauma psikologis yang parah.
Menurut informasi, Daniel ditemukan terpanggang di dalam mobilnya di hutan dekat kota Palestina yang diduduki Safad di Galilea Atas.
Belakangan penyebab kematiannya diungkap oleh sang Ibu. Daniel mengalami gangguan mental akibat kehilangan sahabatnya dan tak kuat melihat pemandangan mengerikan selama bertugas di medan perang.
"Bu, aku tidak bisa berhenti mencium bau mayat," kata Daniel kepada Ibunya.
Advertisement
Penderitaan Berkepanjangan
Daniel sudah mengalami tekanan hidup semenjak kehilangan dua sahabat masa kecilnya, Elisaf Ben-Porat dan Gabriel Yishai Barel yang terbunuh di festival musik "Nova".
Ia ingin datang ke kompleks Bre'im dan membantu teman-temannya namun tidak sempat. Akhirnya kedua temannya pun tewas dan membuatnya semakin dirundung penyesalan.
Tak lama setelah kejadian itu, Daniel direkrut menjadi pasukan cadangan untuk melaksanakan misi pertempuran di Gaza dan Lebanon. Dia berusaha bertahan dari tekanan meski belakangan tidak lagi bisa menahannya.
Sang Ibu mengatakan bahwa Daniel mengaku tidak lagi bisa melihat kengerian yang harus ia alami selama menjadi tentara. Hal itu yang membuatnya justru semakin merasakan sakit.
"Ia mengatakan kepada saya bahwa ia melihat kengerian. Ia tidak dapat menahan rasa sakit lagi," kata ibunya sambil menangis.
Israeli soldier sets himself on fire, committing suicide after participating in Gaza genocide, war on Lebanon
— The Cradle (@TheCradleMedia) July 6, 2025
—
Hebrew media sources report that Israeli soldier Daniel Edri committed suicide yesterday after returning from the Gaza Strip, suffering from severe psychological… pic.twitter.com/r2LyFwM13J
Advertisement
Baru Merayakan Ulang Tahun
Daniel Edri baru saja merayakan hari ulang tahun yang ke-24 sebulan yang lalu. Bukan kebahagiaan, ia justru semakin berada di tengah siksaan mental.
Daniel mengalami tekanan mental yang mendalam dan berusaha mengatasi rasa sakit, pemandangan, dan bau mayat yang terus menerus menghantuinya akibat perang di Lebanon dan Jalur Gaza.
Namun kekuatannya tak lagi mampu menahannya dan ia memilih mengakhiri hidupnya di Hutan Biriya, hutan indah dekat Safed, tempat ia dibesarkan.
Daniel adalah anak ketiga dari empat bersaudara, menjadi yatim piatu oleh ayahnya di usia yang sangat muda.
Ibunya, Sigal, meminta Israel untuk menghormati putranya dan mengizinkannya dimakamkan dengan upacara pemakaman militer. Namun hingga saat ini, permintaannya belum dikabulkan.
Ia mengatakan bahwa Daniel ingin mendaftar, dan ketika ia direkrut menjadi anggota cadangan, ia merasa puas dan diberhentikan sekitar lima bulan yang lalu.