Video berisi pernyataan para pejuang Hamas yang mengungkap jika mereka ternyata selalu berpuasa saat turun ke medan perang melawan pasukan Israel, dibagikan dalam cuitan di akun X @Rd_fas1.
Dalam momen wawancara bersama Al-Jazeera, seorang pejuang Hamas menyebut jika para mujahidin biasa berpuasa di siang hari dan hanya mengandalkan air, kurma, atau makanan apapun yang bisa mereka temukan di puing-puing bangunan rumah warga untuk berbuka.
"Selama perang, kami berpuasa di siang hari dan mengandalkan kurma, air, dan apa pun yang dapat kami temukan di rumah-rumah terdekat," ungkap seorang pejuang Hamas dalam video.
Pada kesempatan tersebut, pejuang Hamas lalu menyampaikan permintaan maaf kepada warga Palestina di Gaza yang rumahnya mereka gunakan untuk berlindung. Selain itu, karena mereka juga telah mengambil beberapa makanan untuk berbuka puasa.
"Kami telah makan (makanan di rumah), dan maafkan kami. Kami telah menerobos rumah ini. Maafkan kami karena kami terpaksa memotong pintu. Maafkan kami karena kami menggunakan tempat tidur dan makan dan minum," ungkap pejuang tersebut.
Di unggahan lainnya, @Rd_fas1 juga mengunggah foto secarik kertas yang ditemukan oleh salah satu warga Gaza di rumah mereka. Surat tersebut ternyata ditulis oleh pejuang Hamas yang berisi permintaan maaf karena telah memakan makanan yang ada di rumah warga.
"Catatan ini ditemukan oleh beberapa warga Gaza saat mereka kembali ke rumah mereka selama gencatan senjata terakhir. Catatan ini berisi permintaan maaf Brigade Qassam karena telah mengambil makanan dan air yang mereka temukan selama tinggal di sana," tulis keterangan unggahan.
Meski sebagian makanannya diambil, pemilik rumah justru merasa bangga rumah-rumah mereka bisa bermanfaat bagi para mujahid yang berperang melawan Israel.
Sejak serangan pertama pada 7 Oktober 2023, Israel masih terus menggempur Gaza Palestina hingga saat ini. Serangan sempat berhenti sebentar setelah gencatan senjata sementara, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Israel bahkan melakukan serangan mematikan terhadap warga sipil di sekitar titik distribusi bantuan di Jalur Gaza pada Selasa, (3/6/2025) lalu. Kejadian tersebut bahkan disebut PBB sebagai salah satu kejahatan perang.
Advertisement
Blokade Israel yang sudah berlangsung hampir tiga bulan juga menyebabkan krisis pangan akut di Gaza. Harga bahan makanan melonjak hingga 1.400%, dan lebih dari 65.000 anak-anak mengalami malnutrisi akut.
Organisasi Pangan Dunia (WFP) melaporkan kehabisan stok bantuan makanan pada akhir April 2025. Hal itu tentu memperparah kondisi kelaparan di wilayah tersebut. Korban pun terus berjatuhan setiap harinya.
Setidaknya lebih dari 54 ribu warga Palestina di Gaza meninggal dunia dalam genosida Israel sejak Oktober 2023 di Gaza. Kematian yang telah diverifikasi sejauh ini menunjukkan bahwa hampir 70 persen adalah wanita dan anak-anak.