Kilas Balik Pernikahan Najwa Shihab dan Suami yang Penuh Kenangan, Tak Mau Tunda Kebahagiaan

Pernikahan yang berlangsung puluhan tahun itu diawali dari pertemuan di kampus dan diperkuat oleh proses refleksi spiritual yang mendalam.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Kilas Balik Pernikahan Najwa Shihab dan Suami yang Penuh Kenangan, Tak Mau Tunda Kebahagiaan
Kenangan Masa Lalu Najwa dan Suami saat Menikah, Tak Ingin Tunda Kebahagiaan (Kenangan Masa Lalu Najwa dan Suami saat Menikah, Tak Ingin Tunda Kebahagiaan)

Menikah adalah keputusan yang sering kali memerlukan pertimbangan yang matang, terutama bagi mereka yang masih berada di tahap awal pendidikan. Namun, Najwa Shihab mengambil langkah yang berbeda dengan memilih untuk menikah pada usia 20 tahun, sebuah keputusan yang diambil tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Ia percaya bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu ditunda, dan dengan keyakinan itu, ia melangkah ke pelaminan.

Pernikahan yang berlangsung puluhan tahun itu diawali dari pertemuan di kampus dan diperkuat oleh proses refleksi spiritual yang mendalam. Keberanian Najwa untuk menerima pinangan di usia muda, diiringi dengan perjalanan panjang sebagai pasangan suami istri, menjadikan kisah mereka sebagai contoh keluarga yang dibangun atas dasar komitmen dan kepercayaan. Mereka berhasil menjaga keseimbangan antara mengejar pendidikan dan membina rumah tangga, mencerminkan nilai-nilai hidup yang saling mendukung satu sama lain.

Setelah hampir tiga dekade menjalani kehidupan bersama, kehidupan mereka mengalami perubahan ketika suami Najwa meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Meskipun kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam, ia juga menyisakan kenangan yang penuh makna dan tak akan pernah pudar. Berikut adalah kisah perjalanan cinta mereka, dari bangku kuliah hingga saat maut memisahkan, dirangkum oleh Merdeka.com pada Rabu (21/5).

Dari informasi yang diperoleh dari kapanlagi.com, Najwa Shihab pertama kali berkenalan dengan Ibrahim Sjarief Assegaf ketika mereka menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pertemuan mereka terjadi di lingkungan kampus, di mana Ibrahim merupakan senior Najwa. Meskipun Najwa masih sangat muda dan belum memulai kariernya, hubungan persahabatan mereka berkembang lebih dalam.

Ibrahim yang dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berprinsip membuat Najwa merasa nyaman, sehingga ia pun membuka hatinya untuk serius menjalin hubungan dengan Ibrahim. Pergaulan mereka di kampus menjadi latar belakang dari kisah cinta yang terjalin tanpa banyak sorotan. Seiring berjalannya waktu, hubungan tersebut tumbuh menjadi fondasi yang kuat untuk kehidupan rumah tangga yang akan mereka bangun bersama.

Tanpa membuang waktu dan ingin menunjukkan keseriusannya kepada Najwa, Ibrahim segera mengambil langkah untuk mengajukan permohonan pinangan secara resmi kepada ayah Najwa, Quraish Shihab. Namun, keinginan Ibrahim tidak diterima begitu saja, karena sang ayah memberikan syarat yang jelas, yaitu, Ibrahim hanya boleh menikahi Najwa apabila telah menyelesaikan skripsi dan dinyatakan lulus kuliah.

Meski demikian, Ibrahim tidak menyerah. Ia bertekad untuk memaksimalkan setiap kesempatan dalam perkuliahannya. Kesungguhan Ibrahim diuji oleh syarat yang diberikan, dan ia dengan penuh tanggung jawab menerima tantangan tersebut tanpa ragu. Sikap tegas dari ayah Najwa ini menunjukkan bahwa restu dalam sebuah pernikahan bukan hanya berkaitan dengan cinta, tetapi juga mencakup kesiapan secara akademik dan moral untuk menjadi suami yang layak.

Dalam situasi yang sama, Najwa tidak langsung menerima pinangan yang diajukan kepadanya. Sebagai gantinya, ia memilih untuk mencari petunjuk melalui salat istikharah ketika menjalani ibadah umrah di Mekkah.

Di hadapan Ka'bah yang penuh dengan makna, ia melafalkan doa untuk mendapatkan kejelasan hati dan untuk menentukan langkah hidupnya dengan bijaksana dan tenang. Najwa meminta petunjuk agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Setelah melaksanakan ibadah tersebut, ia merasakan jawaban yang muncul sebagai titik balik dalam hidupnya. Hal ini membuatnya yakin bahwa Ibrahim adalah sosok yang tepat untuk dijadikan pasangan dalam menjalani kehidupan bersama.

Dengan keyakinan yang kuat, Najwa kembali dari Tanah Suci, membawa keyakinan bahwa hidupnya akan lebih berarti jika dijalani bersama pria yang telah melamarnya dengan serius.

Pernikahan Najwa dan Ibrahim terjadi pada tahun 1997 di Solo, Jawa Tengah, dalam sebuah acara yang mencerminkan perpaduan budaya Bugis, Betawi, dan Jawa. Meskipun Najwa baru berusia sekitar 20 tahun dan masih berada di semester tiga kuliah, ia tetap berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikannya hingga meraih gelar, meskipun sudah berstatus sebagai istri.

Kehidupan mereka sebagai pasangan suami istri dipenuhi dengan saling dukung dan pengertian, yang terlihat dari kokohnya ikatan mereka selama lebih dari dua puluh tahun. Menurut Najwa, pilihan untuk menikah di usia muda bukanlah hasil dari paksaan atau perencanaan yang kaku, melainkan karena dorongan untuk tidak menunda kebahagiaan saat momen itu sudah terasa tepat.

Setelah menjalani ikatan pernikahan, pasangan ini membangun kehidupan bersama yang penuh dengan komitmen, hingga akhirnya dikaruniai seorang putra bernama Izzat empat tahun setelahnya. Meskipun mereka pernah merasakan kesedihan yang mendalam ketika anak kedua mereka meninggal dunia hanya beberapa jam setelah dilahirkan, mereka terus menjaga kekuatan cinta dan kebersamaan yang telah terjalin.

Selama hampir tiga puluh tahun, perjalanan hidup Najwa dan Ibrahim dipenuhi dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Namun, kehidupan mereka harus terpisah ketika maut datang menjemput Ibrahim akibat stroke yang merenggut nyawanya. Kehilangan ini meninggalkan kenangan yang mendalam dan tak akan tergantikan, karena cinta mereka telah membentuk sebuah perjalanan hidup yang kaya akan makna dan keteguhan.

1. Siapa nama suami Najwa Shihab dan kapan mereka menikah?

Suaminya adalah Ibrahim Sjarief Assegaf, mereka menikah pada tahun 1997 di Solo.

2. Mengapa Najwa Shihab memutuskan untuk menikah muda?

Ia memilih menikah muda karena merasa telah menemukan pasangan yang tepat dan tidak ingin menunda kebahagiaan.

3. Bagaimana proses Najwa Shihab menerima lamaran suaminya?

Ia melakukan salat istikharah di depan Ka'bah saat umrah sebelum akhirnya yakin untuk menerima lamaran.

4. Apa tantangan terbesar dalam pernikahan mereka?

Salah satunya adalah kehilangan anak kedua mereka yang meninggal hanya beberapa jam setelah lahir.

5. Apa penyebab meninggalnya suami Najwa Shihab?

Ibrahim Sjarief Assegaf meninggal dunia akibat sakit stroke pada usia 48 tahun.

Rekomendasi