Ledakan Amunisi TNI AD di Garut, Berapa Sebenarnya Umur Amunisi Militer hingga Kedaluwarsa?

Umur simpan amunisi militer bervariasi, tetapi umumnya tidak melebihi 10 tahun, dan penyimpanan yang buruk dapat mempercepat kedaluwarsanya.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Ledakan Amunisi TNI AD di Garut, Berapa Sebenarnya Umur Amunisi Militer hingga Kedaluwarsa?
Ledakan Amunisi TNI AD di Garut, Berapa Sebenarnya Umur Amunisi Militer hingga Kedaluwarsa? (Merdeka.com)

Pemusnahan amunisi kedaluwarsa milik TNI AD di Garut, Jawa Barat, membawa korban jiwa. 13 orang yang terdiri dari 9 warga sipil dan 4 anggota TNI AD meninggal dunia akibat ledakan.

Pemusnahan amunisi militer yang sudah kedaluwarsa merupakan hal yang biasa. Sebab, sebagaimana bahan kimia lainnya, amunisi memiliki umur simpan (shelf life) dan usia pakai (service life) yang terbatas.

Jika digunakan setelah melewati batas tersebut, amunisi bisa gagal fungsi atau bahkan membahayakan penggunadan meledak.

Lantas berapa lama sesungguhnya usia amunisi militer hingga kedaluwarsa? Simak selengkapnya dilansir dari berbagai sumber, Selasa (13/5/2025).

Umur Simpan dan Usia Pakai Amunisi

DPR Minta Pengamanan Pemusnahan Amunisi Diperketat Pasca Ledakan Garut Tewaskan 13 Orang
Ledakan amunisi di Garut menewaskan 13 orang, Komisi I DPR meminta pemerintah dan TNI memperketat pengamanan pemusnahan amunisi dan menyelidiki penyebab ledakan. Planet Merdeka

Seperti dijelaskan di atas, amunisi memiliki umur simpan (shelf life) dan usia pakai (service life) yang terbatas. Shelf life adalah masa di mana amunisi bisa disimpan tanpa digunakan, tetapi tetap diharapkan berfungsi dengan baik bila sewaktu-waktu digunakan.

Sementara service life adalah masa efektif amunisi saat digunakan secara operasional dan diuji secara berkala. Batas usia ini ditentukan berdasarkan jenis bahan peledak, kondisi penyimpanan, desain fisik, dan teknologi sistem senjatanya.

Usia Kedaluwarsa Berdasarkan Jenis Amunisi

pemusnahan amunisi di Garut
pemusnahan amunisi di Garut Istimewa
  1. Peluru Kaliber Kecil (rifle/pistol): 10–25 tahun (Bisa lebih lama jika disimpan dalam suhu dan kelembapan stabil).
  2. Amunisi Artileri & Mortir: 15–30 tahun (Rentan terhadap degradasi bahan propelan dan hulu ledak).
  3. Rudal & Roket (anti-tank/udara): 10–15 tahun (Propelan padat dan sistem elektronik sensitif terhadap waktu dan lingkungan).
  4. Amunisi Presisi (smart bombs, PGM): 10–20 tahun (Batas usia tergantung pada kondisi komponen elektronik dan software).

Faktor yang Memengaruhi Kedaluwarsa Amunisi

Uji Coba Rudal Kruise Strategis Korea Utara
Kim Jong Un oversaw the missile test — the first since US President Donald Trump returned to the White House. Trump has said he would reach out to Kim in his second term. © 2025 merdeka.com
  1. Kelembapan dan suhu tinggi

Mempercepat oksidasi bahan kimia dan mempercepat degradasi bahan peledak.

  1. Paparan sinar matahari langsung

Merusak casing dan sistem elektronik (terutama pada PGM dan rudal).

  1. Kualitas penyimpanan

Amunisi yang disimpan di gudang dengan suhu dan kelembapan terkendali bisa bertahan lebih dari 25 tahun.

  1. Komponen elektronik

Pada rudal dan bom pintar, usia komponen seperti sensor GPS, gyroscope, atau pengendali penerbangan biasanya lebih pendek dari bahan peledaknya.

  1. Jenis bahan peledak dan propelan

Nitroselulosa dan nitroglycerin dalam propelan bisa terurai seiring waktu.

Risiko Penggunaan Amunisi yang Telah Kadaluwarsa

Ukraina Luncurkan Serangan Rudal di Belgorod, Target Sistem Pertahanan Udara Rusia
Kyiv meningkatkan serangan pesawat nirawak dan rudal lintas perbatasannya ke wilayah Rusia. Minggu ini, Ukraina mengklaim telah meluncurkan rentetan serangan terbesarnya terhadap lokasi militer dan instalasi energi di perbatasan. © 2025 merdeka.com

Jika amunisi telah kadeluwarsa dan tetap digunakan akan memiliki risiko yang berbahaya, yakni:

  1. Gagal meledak (dud round) atau ledakan tidak sempurna.
  2. Ledakan dini (premature detonation) akibat bahan kimia yang tidak stabil.
  3. Akibat hukum dan keselamatan, jika digunakan tanpa inspeksi ulang.
  4. Potensi bahaya saat dipindahkan atau dibongkar oleh pasukan logistik.

Penanganan Amunisi Lama oleh Militer

Rudal hipersonik terbaru Korea Utara
Rudal balistik hipersonik jarak menengah baru ditembakkan di sebuah lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara, pada 6 Januari 2025. ©STR/KCNA VIA KNS/AFP

Militer di berbagai negara memiliki standar logistik ketat terkait amunisi. Mereka memiliki cara untuk menangani amunisi yang telah kedaluwarsa.

Di Indonesia, TNI melalui Direktorat Peralatan (DIPALAD) dan Pusat Zeni TNI AD secara berkala melakukan pengecekan, pelabelan ulang, atau pemusnahan amunisi tua melalui ledakan terkendali.

Berikut beberapa standar yang dilakukan militer dunia atas amunisi yang kedaluwarsa:

  1. Inspeksi periodik dan uji destruktif (sampling amunisi tua untuk diuji).
  2. Pemusnahan amunisi kadaluarsa oleh unit zeni atau disposal team (EOD).
  3. Rekondisi pada amunisi yang memungkinkan untuk diperpanjang masa pakainya.
  4. Sistem FIFO (First In, First Out) untuk mencegah penumpukan stok lama.
Rekomendasi