Membangun keluarga baru bagi sebagian orang bukan perkara mudah. Pasangan suami istri harus memutar otak untuk bisa memenuhi kehidupan sehari-hari dan mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh channel Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel memperlihatkan pasangan suami istri yang rela meminjam uang ke bank agar dapat membangun rumah.
Seperti apa perjuangan pasangan suami istri tersebut dan bagaimana cara mereka melunasi utang bank yang setiap bulan harus mereka bayar? Simak ulasannya sebagai berikut.
Advertisement
Membangun Rumah dengan Uang Rp35 Juta
Demi membangun keluarga baru bersama anak-anak, pasangan suami istri di Purwakarta, Jawa Barat berjuang mati-matian demi bisa membangun rumah milik sendiri.
Rumah sederhana yang dibangun di atas tanah milik orang tua itu ternyata menyimpan cerita panjang yang penuh keringat perjuangan. Sebab, pasangan suami istri tersebut harus meminjam uang yang totalnya Rp35 juta.
“Dua kali pinjaman, pak. Pertama Rp10 juta, kedua Rp15 juta,” ujar sang istri.
“Tapi itu sama. Pinjam ke BRI, Rp10 juta,” lanjutnya.
Jadi total pinjaman yang dimiliki oleh pasangan suami istri untuk membangun rumah tersebut adalah Rp10 juta.
Advertisement
Membayar dengan Mencicil
Sang suami diketahui bekerja sebagai seorang guru honorer yang mendapatkan gaji sebesar Rp700 ribu per bulan. Semua uang dari hasil gajinya tidak pernah dirasakan dan langsung dibayarkan ke bank untuk mencicil utang.
Ditambah lagi ia juga mempunyai pekerjaan sampingan di kantor desa dan mendapatkan gaji sebesar Rp550 ribu. Kedua gaji yang didapatkan sang istri tidak pernah dirasakan karena langsung dibayarkan ke bank.
“Jadi kami setiap bulan tidak menerima uang, langsung (dibayarkan ke bank),” ujar sang suami.
“Jadi saya kerja di kantor desa, digaji Rp550 ribu, tapi itu dipakai untuk bayar ke BRI Rp10 juta,” lanjut sang istri.
Advertisement
Biaya Hidup Ditutupi dengan Berdagang
Meskipun semua gaji yang didapat pasangan suami istri itu dipakai untuk membayar utang ke bank, mereka tetap bisa hidup layak dan tidak serba kekurangan. Hal itu karena mereka inisiatif untuk berjualan mulai dari kue hingga kopi.
Sang istri mengaku bahwa setiap hari ia membuat kue untuk dijual suaminya ke sekolah. Selain itu, setiap ada pertandingan sepak bola di kampung, pasangan suami istri itu memanfaatkannya dengan berjualan kopi.
“Kalau hari normal paling saya membawa sekitar 30 sampai 40 biji dikali Rp1.500,” ucap sang suami.
“Saya misalnya ada main bola tiap satu minggu ada saja 3 kali sepak bola. Saya berjualan kopi dengan es teh. Kalau lagi rame bisa dapat Rp100 ribu,” terang istri.