Perkembangan dunia kesehatan sangat membantu manusia dalam mendapatkan pengobatan yang layak. Obat tersebut dinamakan sebagai antibiotik. Antibiotik ditemukan pada tahun 1928 oleh seorang bernama Alexander Flemming.
Sebelum antibiotik ditemukan, segala macam penyakit yang diderita manusia bisa sangat membahayakan dan berpotensi membunuh. Namun, kini, muncul persoalan baru yaitu resistensi antibiotik yang juga banyak dialami oleh orang-orang masa kini.
Hal itu disebabkan karena penggunaan antibiotik secara tidak tepat. Melansir dari berbagai sumber, berikut ini merdeka.com merangkum apa itu resistensi antibiotik dan bahayanya dalam tubuh manusia. Simak ulasannya sebagai berikut.
Advertisement
Mengutip dari laman yankes.kemkes.go.id, resistensi antibiotik adalah suatu fenomena saat bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga tidak dapat lagi dibunuh atau dihambat pertumbuhannya oleh antibiotik.
Resistensi antibiotik biasanya diakibatkan karena penggunaan antibiotik secara tidak tepat, sehingga dapat mengakibatkan resistensi. Penggunaan yang tidak tepat itu adalah seperti penggunaan antibiotik dengan durasi atau dosis yang tidak tepat dan penggunaan antibiotik secara sembarangan.
Bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik juga tergolong cukup berbahaya karena dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Selain itu, kekebalan yang dimiliki oleh satu bakteri dapat ditularkan ke bakteri lainnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan cepatnya perkembangan resistensi antibiotik.
Advertisement
Penyebab resistensi antibiotik yang utama adalah penggunaan antibiotik yang kurang tepat. Mengutip dari laman dinkes.jayapurakab.go.id, berikut ini adalah penyebab terjadinya resistensi antibiotik:
1. Penggunaan yang Irrasional
Hal ini bisa terjadi ketika terapi antibiotik dilakukan dengan kurang tepat. Antibiotik yang tidak terlalu diperlukan tubuh tapi tetap diminum secara tidak tepat akan menyebabkan kekebalan kuman terhadap bakteri.
2. Pengetahuan Pasien
Banyak pasien yang masih kurang pengetahuan tentang antibiotik. Salah satunya adalah menganggap bahwa dalam penanganan penyakit yang disebabkan oleh virus, maka wajib diberikan antibiotik, bahkan tanpa resep dokter. Hal ini sering terjadi dan kerap dijumpai di masyarakat.
3. Penggunaan Terapi Tunggal
Terapi tunggal juga memungkinkan terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, dokter biasanya akan mengkombinasikan berbagai terapi dalam rangka untuk membasmi kuman dengan lebih baik.
Advertisement
Penyebab terjadinya resistensi antibiotik selanjutnya adalah kurangnya penelitian yang dilakukan oleh para ahli untuk menemukan antibiotik terbaru. Pasalnya, resistensi antibiotik akan berlangsung lebih cepat ketimbang penelitian antibiotik baru.
5. Pengawasan
Lemahnya pengawasan dari pemerintah tentang distribusi dan penggunaan antibiotik juga menjadi penyebab yang perlu diwaspadai. Contohnya adalah ketika masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan antibiotik walau tanpa resep dokter.
6. Kemajuan Transportasi dan Globalisasi
Bakteri yang sudah resisten bisa menularkan kepada manusia lainnya. Oleh karena itu, kemajuan transportasi dan globalisasi dapat menjadi penyebab terjadinya penularan karena mudahnya orang-orang sekarang dalam bermobilisasi.
Advertisement
Berikut ini adalah cara untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik yang perlu Anda ketahui:
1. Penegakan Diagnosis Infeksi
Hal yang perlu dilakukan sebelum memberikan antibiotik adalah pasien harus didiagnosis infeksi baik secara klinis maupun pemeriksaan mikrobiologi. Gejala panas bukan merupakan satu-satunya alasan diagnosis infeksi bakteri.
2. Pemeriksaan Kuman
Langkah kedua yang dapat dilakukan untuk mencegah resistensi antibiotik adalah dengan pemeriksaan kuman penyebab serta tes kepekaan kuman terhadap resistensi antibiotik secara tepat.
3. Mempertimbangkan Perlu Tidaknya Antibiotik Diberikan
Antibiotik wajib diberikan kepada kasus infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu, kasus yang disebabkan oleh virus maka pengobatannya digunakan antivirus. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh jamur maka yang diberikan adalah antifungi.
Advertisement
Cara pencegahan resistensi antibiotik selanjutnya adalah penentuan dosis, lama terapi dan cara pemberian yang tepat. Hal ini akan meningkatkan kejadian resistensi sehingga dalam membuat resep sangat penting untuk mempertimbangkan ketiganya.
5. Edukasi kepada Masyarakat
Selanjutnya, cara pencegahan resistensi antibiotik adalah melakukan edukasi kepada masyarakat. Edukasi yang dimaksud adalah bahwa tidak semua jenis penyakit dapat disembuhkan dengan penggunaan antibiotik. Selain itu, jika pasien sudah merasa baikan, maka penggunaan antibiotik harus segera dihentikan.
6. Regulasi Undang-undang
Dalam ranah pemerintah ini sangat penting karena untuk mencegah penggunaan antibiotik yang meluas, maka perlu adanya pembatasan penggunaannya. Masyarakat juga perlu diatur oleh undang-undang dalam menggunakan antibiotik.