Dunia pendidikan di Indonesia baru saja kehilangan sosok mahasiswi tangguh nan inspiratif. Mahasiswi asal Purbalingga dinyatakan wafat usai mengidap hipertensi akut.
Sosoknya pun dipandang bukan mahasiswi sembarangan. Bagi sekelilingnya, mendiang dikenal sebagai sosok pantang menyerah kendati kesulitan membayar kuliah.
Sejumlah tindakan rela dilakoninya demi menembus asa. Berikut ulasan selengkapnya, dilansir dari akun Twitter @rgantas.
Advertisement
Anak Tukang Sayur
Kisah pilu Nur Riska, sosok mahasiswi angkatan tahun 2020 mendadak ramai menjadi sorotan. Perjuangannya demi menembus impian begitu menyayat hati banyak orang.
Nur Riska diketahui merupakan sosok gadis cantik asal Purbalingga, Jawa Tengah yang diterima di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bagi Nur Riska, hal tersebut merupakan suatu berkah lantaran pendidikan dianggapnya sebagai salah satu jalan mengangkat derajat keluarga.
Sehari-hari, orangtua Nur Riska diketahui berdagang sayur demi menghidupi lima buah hati.
"Orang tuanya sehari-hari jualan sayur di gerobak pinggir jalan. Di saat yang sama, ibunya harus menghidupi Riska dan keempat adiknya nan belum lulus sekolah," demikian dikutip dari keterangan.
Kabar bahagia soal diterimanya Nur Riska di kampus tersebut turut membuat dirinya berpikir kembali. Hal itu semata-mata soal ekonomi keluarga yang tak sanggup membiayai Nur Riska berkuliah.
"Kala itu Ia hampir mengubur asa untuk berkuliah. Beruntungnya, guru-guru di sekolahnya mau membantu UKT pertamanya. Desir harapan pun hadir. Ia resmi menjadi mahasiswa," demikian dikutip dari keterangan.
Advertisement
Berusaha Maksimal Cari Pemasukan
Bala bantuan yang datang membuat Nur Riska kembali tegak. Dengan biaya dari hasil patungan para guru di SMA nya, gadis cantik yang dikenal ceria tersebut resmi memasuki semester 1.
Namun tentu bukan hal yang mudah bagi sosok gadis tangguh tersebut. Meminta uang saku lebih pun tak sanggup dituturkannya kepada orangtua.
Berbekal uang saku seadanya, dia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup di Yogyakarta. Berbagai cara pun dilakoninya dengan bekerja hingga mencari beasiswa.
"Tidak kurang-kurang usaha yangg ia lakukan agar bisa melanjutkan studi. Segala cara dia coba, dari mencari beasiswa hingga mengambil part time," demikian dikutip dari keterangan.
Advertisement
Bantuan Mengalir
Kendati demikian, tetap saja. Kesulitan ekonomi masih menjadi momok besar bagi Nur Riska untuk membayar kuliah di waktu-waktu berikutnya.
Diungkap sosok pemilik cerita dalam akun Twitter tersebut, sebenarnya Nur Riska telah beberapa kali mengajukan penurunan biaya kuliah ke pihak Rektorat. Namun, usai memakan waktu lama, usahanya hanya dikabulkan secuil saja. Pihak Rektorat hanya menurunkan biaya kuliahnya sebanyak Rp600 ribu.
Meski demikian, Nur Riska dan keluarga tak mampu membayar biaya kuliah senilai lebih dari Rp2 juta. Perjuangan Nur Riska tersebut menuai atensi dari berbagai pihak.
Mulai dari rekan seperjuangan, DPA, hingga kepala jurusan pun ikut memberi bantuan. Satu kesempatan lagi Nur Riska dapat melanjutkan kuliah yang disebutnya sebagai keajaiban.
"Namun, di detik-detik terakhir bantuan pun datang. Ia menyebut ini sebagai "keajaiban". Teman-teman, DPA, dan Kajur membantu patungan," demikian dikutip dari keterangan.
Advertisement
Berpulang Maret 2022
Selang beberapa waktu, kabarnya pun tak lagi terdengar di sekeliling rekan seperjuangan hingga jurusan. Rupanya, Nur Riska tengah berjuang. Kali ini bukan ekonomi, melainkan kesehatannya.
Tak banyak diketahui, Nur Riska ternyata mengidap penyakit hipertensi akut hingga membuat kondisi fisiknya kian menurun. Sempat mengalami kritis, Nur Riska akhirnya pun berpulang pada Maret 2022 silam.
"Selama ini dia mengidap hipertensi yang amat buruk. Ancaman putus kuliah kian memperburuk keadaannya. Setelah beberapa waktu tidak kuliah, tiba-tiba muncul kabar ia sedang kritis di RS. Pembuluh darah di otaknya pecah," demikian dikutip dari keterangan.
"Ia pun menyerah pada 9 Maret 2022. Meninggalkan keluarganya beserta mimpi-mimpinya," demikian dikutip dari keterangan.
Perjuangan Nur Riska demi cita-cita mengangkat derajat orangtuanya pun harus berakhir. Kini, sosoknya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang yang tengah berjuang bagi asa serta keluarga.
Advertisement
Banjir Doa Haru
Perjuangan Nur Riska yang terpaksa harus berhenti tersebut menuai derai air mata dari publik. Kini, banyak ungkapan duka hingga doa mendalam yang disematkan bagi mendiang.
"Selamat jalan saudaraku," tulis akun @yeni.ariyanti12
"Semoga tenang kawan," tulis akun @ganif_prasetyo
"Rest in love saudaraku, perjuanganmu akan selalu terkenang," tulis akun @ajisaputra938
"Surga tempatmu mbak," tulis akun @adityarizkynr