Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatra Utara memiliki pemandangan yang hijau dan asri. Beragam jenis tanaman, serta air terjun yang memanjakan mata menghiasi desa tersebut.
Rupanya keindahan dan asrinya desa ini berkat tangan dingin Marandus Sirait. Dia berhasil melestarikan alam dengan menanam 100 jenis tanaman buah.
Perjuangannya selama lima tahun tersebut tak sia-sia. Marandus berhasil mendapatkan penghargaan dari Presiden RI, Kementerian Kehutanan, serta sejumlah kampus kenamaan.
Simak kisah inspiratifnya berikut ini, seperti dihimpun dari kanal YouTube CapCapung, Selasa (19/7).
Advertisement
Sejak 1999, Marandus Sirait mulai membangun Taman Eden 100. Dia mengusung konsep di mana manusia, tanaman, dan binatang hidup rukun.
Marandus telah menanam 100 jenis tanaman berbuah yang dicampuraduk di antara kayu-kayuan yang ada.
"Bukan kebun, jadi hutan buah, hutan alam, tapi 100 jenis pohon berbuah. Luas lokasinya ada 50 hektar," kata Marandus.
"Karena saya tahu seluruh kawasan Danau Toba seluruh lekuk-lekuknya penuh dengan dolar, berlian. Tapi untuk mengambilnya harus dengan brilliant juga," imbuhnya.
Advertisement
Kala itu, keputusan Marandus sudah bulat untuk pulang ke kampung halaman untuk melestarikan hutan di wilayahnya. Dia rela meninggalkan kehidupan mewah di kota yang selama ini dijalaninya.
Tak dipungkiri awalnya ia harus menerima cemoohan lantaran dianggap belum jelas alasannya tersebut.
"Jadi yang memang yang menjadi kendala kita kalau pulang kampung adalah orangtua dan keluarga. Karena itu jadi bumerang bagi mereka, kita pulang mereka yang malu," kata Marandus.
"Sementara pekerjan yang kita lakukan tidak jelas. Termasuk hutan untuk apa saat itu. Dulu masih dianggap sesuatu yang tak masuk akal," sambung dia.
Advertisement
Sebuah dedikasi yang berbuah manis. Perjuangan Marandus selama lima tahun akhirnya dihadiahi oleh presiden dengan Penghargaan Kalpataru.
"Anggaplah saya ini kuliah di universitas terbuka ini, di hutan, setelah lima tahun teman kuliah kita ada monyet, ular, tikus. Dosennya pun saya di sini, saya enggak mau kalah dengan yang kuliah betulan, di sinilah saya belajar," ujar Marandus.
Penghargaan Kalpataru adalah bentuk apresiasi tertinggi dari pemerintah kepada individu atau kelompok masyarakat karena berjasa dalam melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup.
"Persis lima tahun saya tamat dan langsung diwisuda di Istana Negara. Saya mendapatkan Piala Kalpataru dari Presiden RI. Itulah motivasi saya bagi para pemuda," sambungnya.
Advertisement
Beragam cara dilakukan oleh Marandus demi bisa mengembangkan dan melestarikan hutan. Termasuk dengan menanam jenis tanaman yang belum pernah ada sebelumnya di desanya.
"Kita membudidayakan, membibitkan, menanam, melestarikan tanaman-tanaman khas Toba yang awalnya tak ada di sini," tutur Marandus.
"Salah satunya membuat kebun Andaliman, yang awalnya tumbuh liar. Andaliman ini terkait di tanah Batak sebagai bumbu dapur, maka kita kembangkan," tambahnya.
Advertisement
Tak berhenti di situ, pengabdian Marandus juga memperoleh penghargaan dari Kementerian Kehutanan dengan meraih medali emas.
Namun, medali emas yang didapatkan dijual sebagai modal membuat kebun, sesuai dengan moto hidupnya.
"Tahun 2017 saya mendapatkan medali emas dan pin emas dari menteri kehutanan dan dari UGM. Itulah saya jual untuk pertama membuat kebun Andaliman," ungkap Marandus.
"Dengan moto saya, lebih baik menanam sebatang pohon di alam terbuka. Dari pada menyimpan sebatang emas di lemari besi terkunci. Jadi emas saya itu saya ubah jadi pohon. Dan ini sudah dikirim sampai ke negara lain," terangnya.
Advertisement
Di atas hutan 50 hektar Sumatra Utara tersebut akhirnya menjadi lokasi wisata alam yang benar-benar memanjakan diri dengan keindahan alamnya.
Bukan hanya bagi masyarakat sekitar, tapi hutan tersebut bermanfaat pula bagi binatang liar.
"Jadi kita membuat wisata, tapi mendukung peningkatan ekonomi, baik kita maupun masyarakat sekitar. Bukan hanya manusia, termasuk hewan yang mendapatkan berkat, ada buah gratis untuk mereka," ucap Marandus.
Wisata alam di Taman Eden 100 menyuguhkan penginapan, taman belajar, hingga lokasi penelitian yang bekerja sama dengan kampus dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
"Kalau di sini ada bayar, ada edukasi, ada jasa pemandu, ada homestay, ada mendaki gunung, gua kelelawar, masyarakat sekitar jadi pemandu, ada banyak. Sumber ekonomi dari alam ini, ada air terjun, lokasi camping, jadi satu kegiatan khusus pramuka dan penelitian dari LIPI sering ke sini," pungkasnya.
Berikut video membangun 'surga' 50 hektare di Sumut.