Gejala positif skizofrenia merupakan gejala yang tampak atau bisa terlihat oleh orang awam. Misal, penderitanya menunjukkan perilaku tidak wajar seperti sikap marah, impulsif, atau berkata kasar.
Sedangkan gejala negatif pada pasien skizofrenia biasanya cenderung lebih sulit terlihat oleh orang awam. Gejala negatif dicirikan dengan hilangnya sifat atau kemampuan tertentu yang biasanya ditemukan pada orang tersebut.
Mereka cenderung akan menarik diri dan tidak mau bersosialisasi. Gangguan psikotik tersebut, jika tidak ditangani akan meningkatkan risiko terjadinya kekerasan yang bisa melukai diri sendiri.
Maka dari itu, penting dilakukannya perawatan dan pengobatan pada pasien dengan skizofrenia. Lalu, apa saja gejala yang biasa ditimbulkan? Simak ulasan selengkapnya dilansir dari laman Alodokter dan berbagai sumber, Kamis (6/1/2022):
Advertisement
Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan kronis di mana pengidapnya akan mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Umumnya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri.
Skizofrenia sering disamakan dengan psikosis, padahal keduanya berbeda. Psikosis hanyalah salah satu gejala dari gangguan mental, seperti gangguan bipolar, delusi, depresi berat, dan skizofrenia. Meski gejala psikosis dapat muncul pada skizofrenia, namun tidak semua penderita skizofrenia pasti mengalaminya.
Disebutkan bahwa skizofrenia ternyata juga berisiko tinggi menjadi penyebab kematian di usia muda. Sebab, skizofrenia umumnya disertai dengan penyakit lain, seperti jantung, diabetes, dan infeksi.
Advertisement
Penyebab Skizofrenia
Meski penyebab utama skizofrenia belum ditemukan hingga kini, ada beberapa faktor yang disebut menjadi penyebab terjadinya gangguan ini, di antaranya: 1. Faktor GenetikSkizofrenia ternyata bisa disebabkan karena faktor genetik. Seseorang yang memiliki orang tua dengan gangguan ini memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa. Risiko tersebut meningkat 40 persen lebih besar ketika kedua orangtua sama-sama pengidap skizofrenia.2. Komplikasi Kehamilan dan PersalinanSkizofrenia juga disebut bisa disebabkan karena beberapa kondisi yang mungkin terjadi saat hamil. Sehingga, dampaknya muncul ketika anak lahir. Kondisi ini, seperti paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa kehamilan, serta kekurangan nutrisi. Selain itu, komplikasi pada saat persalinan uga dapat menyebabkan seorang anak mengidap skizofrenia. Contohnya, berat badan rendah saat lahir, kelahiran prematur, dan asfiksia atau kekurangan oksigen saat dilahirkan.
Advertisement
3. Faktor Kimia pada Otak
Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin pada otak juga dapat menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko seseorang mengidap skizofrenia. Serotonin dan domapin adalah zat kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian dari neurotransmitter. Adapun pada penderita skizofrenia juga disebut memiliki struktur dan fungsi otak yang berbeda. Perbedaannya seperti:
- Ventrikel otak memiliki ukuran yang lebih besar. Ventrikel sendiri adalah bagian dalam otak yang berisi cairan.
- Lobus temporalis memiliki ukuran yang lebih kecil. Ingatan dalam otak manusia berkaitan dengan lobus temporalis.
- Sel-sel pada otak memiliki koneksi yang lebih sedikit.
Faktor RisikoSebenarnya, siapa saja bisa mengalami skizofrenia. Hanya saja, kalangan remaja dan mereka yang baru menginjak usia 20 tahun awal berisiko tinggi mengalami kondisi ini. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko skizofrenia, di antaranya:
- Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
- Beberapa komplikasi kehamilan dan kelahiran, seperti malnutrisi, kekurangan oksigen atau paparan racun atau virus yang dapat memengaruhi perkembangan otak.
- Memiliki riwayat keluarga dengan skizofrenia.
- Kelahiran prematur.
- Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.
- Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin.
- Mengonsumsi obat-obatan yang dapat mengubah pikiran (psikoaktif atau psikotropika) selama masa remaja dan dewasa muda.
Advertisement
Gejala Skizofrenia
Gejala awal skizofrenia umumnya muncul di usia dewasa muda. Pada pria, gejala awal muncul di awal usia 20 tahun. Sementara, gejala pada wanita biasanya akan mulai terlihat pada usia 20 tahunan atau awal 30 tahunan.Sejumlah gejala awal yang dialami oleh penderita adalah:
- Mengasingkan diri dari orang lain
- Kesulitan untuk berkonsentrasi dan kurang motivasi
- Perubahan pada pola tidur
- Kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah
- Depresi dan mudah marah
Berdasarkan tipenya, gejala skizofrenia dibagi menjadi dua jenis, yaitu gejala positif dan gejala negatif.Gejala PositifGejala positif meliputi perubahan pada pola pikir dan perilaku, misalnya:1. HalusinasiHalusinasi adalah perasaan mengalami sesuatu yang sebenarnya tidak nyata, misalnya mendengar bisikan tertentu. Halusinasi pendengaran merupakan bentuk halusinasi yang paling sering terjadi pada penderita skizofrenia.2. DelusiDelusi atau waham adalah meyakini sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan, seperti merasa diawasi, diikuti, atau bahkan disakiti. Keyakinan ini dapat memengaruhi perilaku penderita skizofrenia.
Advertisement
3. Kekacauan dalam berpikir
Penderita skizofrenia bisa saja mengalami kesulitan berkonsentrasi. Mereka akan merasa susah fokus, bahkan pada saat melakukan aktivitas sederhana. Hal ini bisa menyebabkan penderita sulit mengingat dan berkomunikasi.4. Kekacauan dalam berperilakuKekacauan ini ditandai dengan perilaku motorik yang tidak teratur dan gerak tubuh yang tidak normal, atau sulit diprediksi. Penderita skizofrenia bahkan dapat berteriak tiba-tiba dan marah tanpa alasan.Gejala NegatifSeperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa gejala negatif cenderung lebih sulit terlihat oleh orang awam. Gejala ini mengacu pada hilangnya minat dan motivasi. Gejala negatif umumnya muncul bertahap dan memburuk seiring waktu. Beberapa gejala tersebut seperti:
- Respons emosional yang ganjil, seperti ekspresi wajah dan nada bicara yang tidak sesuai dengan situasi
- Sulit merasa senang atau puas
- Enggan bersosialisasi dan lebih memilih untuk berdiam di rumah
- Hilang minat dan motivasi
- Perubahan pada pola tidur
- Tidak peduli pada penampilan dan kebersihan diri
Advertisement
Pencegahan
Sebenarnya, sampai saat ini belum diketahui pasti bagaimana cara mencegah skizofrenia. Hanya saja, deteksi awal dan pengobatan dini dapat membantu mencegah penderita skizofrenia mengalami perburukan gejala dan kekambuhan.Untuk itu, penting bagi setiap orang mempelajari dan mendeteksi gejala skizofrenia, mengenali faktor risiko, serta belajar bagaimana cara hidup bersama penderita. Dengan begitu, komunikasi dan interaksi antara keluarga dengan penderita dapat menjadi lebih baik.