Cara menghadapi anak ADHD tidak bisa dilakukan dengan sembarangan dan penuh emosi. Untuk mendidik anak dengan diagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder memang diperlukan kesabaran.
Sebagian orangtua terkadang khawatir untuk mendidik si kecil. Tentunya mereka tetap berkeinginan bisa mendidik sang buah hati tanpa meluapkan emosi yang meledak-ledak.
Seorang anak dengan kondisi ADHD mempunyai masalah terkait pengendalian perilaku sehingga akan terlalu aktif dan bisa melakukan tindakan apapun tanpa memikirkan konsekuensi. Berikut adalah cara menghadapi anak ADHD yang berhasil Merdeka.com rangkum dari Hellosehat:
Advertisement
Jauhkan Buah Hati dari Sesuatu yang Jadi Pengganggu
Cara menghadapi anak ADHD yang pertama adalah dengan menjauhkan buah hati dari sesuatu yang mengganggu. Perlu diketahui bahwa anak ADHD ini akan begitu mudah terdistraksi pada suatu yang bisa membuyarkan konsentrasinya saat belajar.
Ibu dan ayah perlu melihat adanya kebiasaan serta kondisi yang membuat si kecil tenang. Terdapat anak ADHD yang bisa tenang dan meningkatkan konsentrasinya dengan musi, ada pula anak ADHD yang bisa berkonsentrasi tanpa adanya suara sedikitpun.
Menyesuaikan kondisi yang bisa membuat si kecil tenang sehingga dapat berkonsentrasi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi anak ADHD.
Advertisement
Bersikap Tegas Tanpa Marah
Cara menghadapi anak ADHD selanjutnya adalah dengan bersikap tegas. Namun perlu menjadi catatan, tegas bukan berarti marah.
Ayah dan ibu bisa menjelaskan tentang konsekuensi secara jelas dan menerapkannya secara perlahan namun tetap tegas. Tak sedikit orang tua yang merasa kesal dan lelah menghadapi anaknya.
Akan tetapi orangtua harus bisa mengendalikan emosinya kepada sang anak. Ini akan terasa agak sulit, namun sebagai orang tua khususnya yang memiliki buah hati ADHD, Anda dituntut untuk bisa menjadi contoh baik di depan mereka agar dijadikan panutan.
Advertisement
Buat Rutinitas Disiplin
Dikutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), orangtua dapat membuat sebuah jadwal rutinitas pada setiap harinya. Jadwal tersebut bisa dimulai dari waktu bangun tidur, sarapan bermain dan juga tidur siang hingga istirahat pada malam hari.
Hal tersebut bisa dijadikan salah satu cara untuk menghadapi dan mendidik anak ADHD. Sebab, mereka sangat butuh sebuah aturan jelas serta pola terstruktur untuk diikuti.
Rutinitas yang tersusun dan sudah dijadwalkan dengan baik secara disiplin akan membuat anak lebih tenang ketika melakukan sesuatu.
Advertisement
Berikan Hadiah Perlahan
Selanjutnya Anda bisa membuat sebuah aturan konsekuensi secara verbal dan tertulis. Contohnya menempel daftar tanggung jawab si kecil dan aturan di dalam rumah.
Orang tua boleh sekali memberikan hadiah kepada anak, namun hindari memberi iming-iming hadiah untuk sesuatu yang masih lama akan terjadi. Misalnya, ayah dan ibu akan belikan sepeda kalau kamu sudah naik kelas tahun depan.
Perlu diketahui bahwa anak ADHD ini mempunyai masalah dalam perencanaan waktu yang akan datang. Jadi, memberikan hadiah tahun depan menjadi sesuatu yang tak masuk akal. Sebaiknya Anda memberikan hadiah atau rewards dalam waktu dekat.
Advertisement
Bantu Anak Temukan Bakatnya
Tak sedikit masyarakat yang mengucilkan dan menganggap adanya perbedaan pada anak ADHD. Hal ini tentu saja akan berpengaruh dan membuat anak tidak bisa melakukan sesuatu akhirnya depresi.
Bahkan perasaan itu mungkin sudah mulai muncul pada anak-anak pengidap ADHD sejak dirinya berusia 8 tahun. Orang tua perlu mendidik agar menemukan minat beserta bakatnya. Karena anak-anak mungkin merasa tak berharga lantaran tak ada yang bisa dikerjakan.
Biasanya anak ADHD meletakkan minatnya dalam suatu hal, dan bisa menguasainya dengan kemampuan 5 tahun di atas umurnya.
Advertisement
Lakukan Terapi dengan Ahli
Apabila ayah dan ibu sudah mengalami kesulitan dalam mendidik anak dengan kondisi ADHD, bisa melakukan terapi bersama ahli. Direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) terapi perilaku untuk anak dengan kondisi ADHD sang perlu.
Selama terapi, anak akan melakukan kegiatan yang mengandung tiga elemen, antara lain seperti:
- Membuat target sederhana, misalnya bermain dengan teman atau duduk saat belajar selama satu jam.
- Membuat rewards dan konsekuensi.
- Konsisten dalam menjalankan terapi.
Menerapkan tiga elemen ini sangat penting sampai pada nantinya anak dapat melakukan sendiri hal-hal yang sudah diajarkan.